Senin, 07 Maret 2011

Saatnya Menguji Kecerdasan Imam Syafi’i



Di masa pemerintahan Harun Ar-rasyid ada sekelompok orang yang iri dengan kecerdasan Imam Syafi’i. Mereka ingin mempermalukan sang Imam di depan Harun Ar-rasyid. Mereka kemudian mengajukan beberapa pertanyaan pada Imam Syafii.

Seseorang bertanya kepada Sang Imam “ Ada dua orang muslim berakal yang minum khamar. Salah satunya diganjar hukuman Hadd dicambuk sebanyak 80 kali . Tapi yang satunya tidak diapa-apakan. Mengapa bisa demikian ?” Tanya salah seorang di antara mereka pada Imam Syafii.

Kemudian Sang Imam menjawab “Salah seorang diantara mereka berdua itu sudah baligh sehingga ia harus dihukum hadd. Sedangkan satunya belum baligh, sehingga ia tak diapa-apakan,” jawab Imam Syafii mantap.
Orang yang kedua kemudian bertanya “Ada 5 orang menzinahi seorang wanita. Orang pertama divonis bunuh. Orang kedua dirajam. Orang ketiga dihukum hadd. Orang keempat dikenai setengah hokum hadd. Sedangkan orang kelima dibebaskan. Kenapa bisa demikian ?”

Kemudian Sang Imam menjawab “Orang pertama menghalalkan zina sehingga ia harus divonis murtad dan wajib dibunuh. Orang kedua muhshan (sudah menikah) sehingga ia harus dirajam. Orang ketiga ghairu muhshan (belum menikah) sehingga ia harus dihukum hadd. Orang keempat seorang budak yang harus dihukum setengah hokum hadd. Sedangkan orang kelima gila sehingga ia tak mendapat hukuman apapun,” papar Imam Syafii.

Orang yang ketiga kemudian bertanya “Seorang laki-laki mengambil sebuah wadah air untuk minum. Namun ia hanya bisa meminum separuhnya yang halal sedangkan sisanya haram. Bagaimana ini bisa terjadi ?” Tanya mereka lagi.

Kemudian Sang Imam menjawab “Laki-laki itu telah meminum separuh air di wadah. Ketika mau meminum separuhnya lagi, ia mengalami mimisan sehingga darah menetes ke wadah itu bercampur dengan air. Sehingga, sisa air itu haram baginya,” jawab Imam Syafii.

Jawaban Imam Syafii itu membuat sang khalifah tersenyum seraya berkata,” Semoga Allah memperbanyak pada keluarga besarku orang sepertimu.”

Sabtu, 05 Maret 2011

Mendidik Dengan Cinta


Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar menjadi rendah diri. 
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, Ia belajar untuk menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan Ia belajar menjadi percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian Ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, Ia belajar keadilan Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, Ia belajar menyenangi dirinya Jika anak dibesarkan dengan cinta kasih sayang dan persahabatan Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Kehidupan keluarga menjadi sumber inspirasi utama proses pembelajaran seorang anak dalam menemukan,
membentuk dan mendesain kepribadian. Dinamika kehidupan keluarga akan menjadi ruh bagi terbentuknya frame of personality.

Dari keluarga inilah anak menginternalisasikan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang nantinya akan digunakan sebagai alat berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarganya. Sampai dengan titik ini dapat diambil suatu pemahaman bahwa baik buruknya kualitas kehidupan keluarga akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Anak akan belajar dari apa yang Ia dengar, apa yang Ia lihat dan apa yang Ia rasakan dalam keluarganya, untuk selanjutnya Ia internalisasikan dan implementasikan dalam perilaku kesehariannya.

Dengan kata lain Bila Ia mendengar hal-hal yang Indah dari keluarganya, Ia pun akan berperilaku elok, santun dan lembut. Sebaliknya jika yang Ia dengar dan Ia lihat adalah kekerasan maka anak pun akan memperlihatkan kekerasan, agresifitas dan perilaku-perilaku negative lainnya.

Dengan Cinta Kita Bicara.
Cinta adalah bahasa yang paling universal dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Sebab cinta merupakan amunisi jiwa yang sangat dahsyat yang mampu mengalahkan kedahsyatan topan tornado maupun ganasnya luapan lahar gunung merapi. Atas nama cinta, banyak orang (ibu) yang rela berkorban demi kemuliaan hidup anak-anaknya. 

Apakah Cinta ? 

Dalam perspektif psikologi, cinta diidentifikasikan sebagai energi kehidupan positif yang bersifat afektif (emosi) . Energi cinta akan membawa seseorang pada perilaku yang positip, karena dalam cinta tersebut terkandung unsur-unsur positip seperti keikhlasan, kesabaran, kasih sayang, ketabahan, kejujuran, kepercayaan dan kesunguhsungguhan. Ketika energi cinta ini diimplemetasikan dalam mendidik anak-anak, maka orang tua harus berlaku ikhlas (lahir dan bathin), sabar dan penuh kasih sayang. Kasih sayang dalam kontek ini tidak berarti harus selalu memberi atau
menuruti semua kehendak anak, tetapi mempertegas sikap untuk memberi pelajaran pada anak bahwa tidak setiap keinginan atau kehendak itu harus terpenuhi. Ketegasan tidak sama dengan kekerasan !! Dunia anak-anak jauh sangat berbeda dengan dunianya orang tua/dewasa. 

Banyak hal yang berbeda bahkan bertolak belakang diantara keduanya. Kenyataan ini sering membuat orang tua tidak sabar dan tidak tabah dalam mengsuh/mendidik putra-putrinya. Ketidaksabaran dan ketidaktabahan ini menimbulkan konflik yang sering memicu timbulnya kemarahan, sehingga cinta yang semestinya menjadi energi positif berubah menjadi energi destruktif yang merusak sendi-sendi harmoni cinta antara orang tua dan anak-anaknya

Oleh karena itu memelihara cinta sebagai amunisi jiwa adalah merupakan kata kunci untuk membangun kejujuran, kepercayaan dan kesungguhan dalam “gerakan” mendidik dan mengasuh anak-anak tercinta. 

Bagaimana Memelihara Cinta ?

Sebagaimana sebuah tanaman, Cinta juga memerlukan pemeliharan yang baik agar tumbuh subur, berbunga indah dan berbuah lebat. Tanaman perlu dipupuk dengan pupuk organic untuk menjaga kesuburannya, maka cinta juga perlu disuburkan dengan pupuk-pupuk rohaniah. Diantara pupuk yang paling mujarap untuk menjaga kesuburan cinta adalah menumbuhkan rasa saling mengerti. Orang tua harus mencoba belajar memahami dunia anak-anak. 

Anak-anak bukan merupakan manusia dewasa dalam bentuk mini. Artinya jangan memeperlakukan anak-anak seperti kita memeperlakukan orang dewasa. Anak mempunyai dunianya yang khas, yang sangat berbeda dengan dunia kita. Dunia anak-anak adalah berekplorasi, berekperimen mencari tahu dan menemukan sesuatu yang sesuai dengan frame of reference mereka yang masih sangat simple. Bermain bagi seorang anak adalah aktivitas pencarian untuk menemukan apa yang sedang ia cari. Sedangkan bermain bagi orang dewasa adalah
refressing untuk menyegarkan jiwa raga setelah bergelut dengan padatnya pekerjaan. Dunia orang dewasa adalah dunia bekerja, dunia tanggung jawab yang menuntut kerja keras dan nilai-nilai pertanggungjawaban. Dimana semua itu akan bermuara pada terbentuknya rasa ukhuwah atau persaudaraan yang lebih kuat dan lebih baik. Persaudaraan yang kokoh adalah muara akhir dari energi cinta. Kesuburan cinta harus pula ditingkatkan dengan doa. Ketulusan dan keikhlasan doa merupakan jembatan bagi manusia untuk membentuk kehidupan jiwa yang khusuk, jiwa yang tawadu, konaah dan istiqomah , dimana semua itu akan menuntun terwujutnya perilaku yang halus sebagai wujut kematangan jiwa. Doa adalah intinya ibadah, di dalam doa termuat muatan cinta yang tidak terbatas. Maka berdoalah anda maka anda akan menjadi orang kaya dengan cinta. Doa akan menuntun manusia untuk mengakui bahwa dirinya adalah doif, lemah dan penuh ketidakberdayaan. Ketidak berdayaan inilah yang mendorong manusia untuk bersama membangun kekuatan yang namanya Cinta

Antara Ketegasan dan Kekerasan

Tidak ada satupun alasan pembenar yang dapat membenarkan tindak kekerasan pada anak untuk sebuah metode pendidikan. Kekerasan akan meninggalkan dendam dan kebencian. Yang dianjurkan adalah menggunakan pendekatan ketegasan. 

Tegas berarti aseritif, yaitu membiasakan disiplin untuk melatih bertanggungjawab. Ketegasan memang sering berimplikasi pada suatu suasana yang tidak menyenangkan bagi anak-anak. Namun selama ketegasan itu kita komunikasikan secara terbuka (tidak didasari oleh ego kekuasaan sebagai orang tua), maka lambat laun anak akan mengerti mengapa saya “dipaksa” bigini atau begitu” oleh ayah/ibu saya. 

Oleh karena itu konsep ketegasan ini harus selalu diiringi dengan pemberlakuan prinsip reward and punishment. Dengan demikian ketegasan tidak meninggalkan jejak dendam dan kebencian, sebaliknya meninggalkan kesan tentang perlunya tanggungjawab dan kedisiplinan. Cinta memang butuh ketegasan. Love your child forever, so they make be you understanding. Love is miracle !! Love is power and love is future !

Detik-detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW



Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu.


Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.

 “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.

“Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.

Fatimah menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya
.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan.

Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.

Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.

“Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.


“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling.

Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah
.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya
.
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Bapak Ilmu Bedah Modern Ternyata Seorang Muslim



Dalam dunia kedokteran, seringkali kita mendengar istilah ‘jahitan’ untuk menutup luka yang menganga. Penjahitan yang dalam bahasa kedokteran disebut hecting, biasanya dilakukan pada kulit atau jaringan tubuh lain yang robek. Untuk melakukan tindakan hecting diperlukan dua alat, yaitu jarum dan benang yang dikenal dengan istilah catgut. 

Catgut dibuat dari jaringan hewan. Biasanya dari usus sapi atau kambing. Mengapa dipilih dua hewan tersebut? Tak lain karena zat dari dua hewan inilah yang dapat diterima oleh tubuh manusia ketika benang (catgut) tersebut menyatu dengan kulit. Dan yang paling penting adalah karena dua hewan tadi halal digunakan menurut hukum islam.

Faktor kehalalan ini sangat diperhitungkan karena penemu metode hecting dengan zat catgut adalah seorang muslim.

Adalah seorang ilmuwan muslim, Abu Al Qasim Khalaf Ibn Al Abbas Al Zahrawi yang pertama kali menemukan catgut dan metode hecting pada abad ke-10.
Dunia pun mencatat kontribusi Abu Al Qasim ini. Sebuah buku yang ditulis oleh Ingrid Hehmeyer dan Aliya Khan, diterbitkan oleh Canadian Medical Association Journal (2007) berjudul Islam’ Forgotten Contributions to Medical Science (Kontribusi Islam yang Terlupakan dalam Ilmu Pengetahuan Medis), mengutip bahwa Abu Al Qasim adalah orang yang pertama yang menggunakan catgut sebagai bahan untuk melakukan hecting.
Metode ini ia temukan saat ia menjabat sebagai anggota Dewan Dokter Raja Al Hakam II masa kekhalifahan Umayyah di Andalusia (Spanyol sekarang). Penemuan tersebut merupakan sumbangan terbesar untuk dunia kedokteran dalam melakukan pembedahan. Betapa tidak, sebelum metode hecting ini ditemukan, pembedahan pada luka pasien dilakukan dengan cara membakar kulit atau jaringan yang terbuka. Istilah medisnya cauterization. Tindakan ini efektif menutup luka tapi sangat menyakitkan dan mempunyai efek jangka panjang yang buruk.

Peran Abu Al Qasim ini mengembangkan dunia medis terus berlanjut. Ia tak hanya menemukan metode (hecting) dan penggunaan catgut. Tokoh yang juga ahli kebidanan ini menemukan foreceps. Forcep adalah sebuah pisau bedah yang dipakai untuk mengeluarkan fetus (janin yang mati dalam kandungan). Abu Al Qasim juga dikenal sebagai orang pertama yang mengenali penyakit kelainan darah (hemophilia). Yang menakjubkan, ia juga membuat beragam obat untuk keperluan setelah operasi. Bahkan dalam hal menyiapkan gigi palsu dan memasangnya pun dapat ia lakukan.

Masih banyak kontribusi Abu Al Qasim dalam dunia medis yang dijadikan rujukan sampai sekarang. Semua rangkuman pengetahuannya tentang medis tercantum dalam bukunya yang berjudul Al-Tasrif (Metode Pengobatan). Di dalamnya ia mengemukakan banyak hal berkaitan dengan pengobatan, bahkan ia juga mengenalkan lebih dari 200 peralatan bedah yang sangat berguna untuk keperluan operasi. Al-Tasrif telah beberapa kali diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi rujukan utama sekolah-sekolah kedokteran Eropa selama lima abad. Satu nama yang pernah menerjemahkan Al-Tasrif adalah Gerard of Cremonia. Ia menerjemahkan Al-Tasrif dalam bahasa latin pada abad ke-12.

Karena kontribusinya inilah Abu Al Qasim, dalam sebuah literature medis berjudul Neuroscience in Al-Andalus and its influence on Medieval Scholastic Medicine ( Neuroscience di Andalusia dan pengaruhnya pada pendidikan medis abad pertengahan –red) yang diterbitkan tahun 2002, karya empat orang ilmuwan Spanyol yaitu A. Martin-Araguz, C.Bustamante-Martinez, Ajo. V. Fernandes-Armayor, J.M. Moreno Martinez, menobatkan Abu Al Qasim sebagai bapak ilmu bedah modern. Subhanallah

Lima Hal Yang Diingat Umar Bin Khatab r.a atas Kecerewetan Sang Istri



                        
Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khatab r.a. Ia ingin mengadu pada Khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. 

Dari dalam rumah terdengar istri Khalifah Umar bin Khatab r.a sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Khalifah Umar bin Khatab r.a yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?
Umar berdiam diri karena ingat 5 hal.

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya.
Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari.
Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liukan yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja dan berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.
Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaiannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Khalifah Umar bin Khatab r.a paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi dan lalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.
Dengan mengingat lima peran ini, Khalifah Umar bin Khatab r.a kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Khalifah Umar bin Khatab r.a ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya

Kamis, 03 Maret 2011

Kunci Surga



Ibarat sebuah pintu, surga membutuhkan sebuah kunci untuk membuka pintu-pintunya.
Namun, tahukah Anda apa kunci surga itu?
Bagi yang merindukan surga,
tentu akan berusaha mencari kuncinya walaupun harus mengorbankan nyawa.

Tetapi anda tak perlu gelisah, Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam
telah menunjukkan pada umatnya apa kunci surga itu,
sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang mulia,
beliau bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh
dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga."
(HR. Imam Ahmad dengan sanad yang shohih)

Ternyata, kunci surga itu adalah Laa Ilaahaa Illalloh, 
 kalimat Tauhid yang begitu sering kita ucapkan.
Namun semudah itukah pintu surga kita buka?
Bukankah banyak orang yang siang malam
mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh
tetapi mereka masih meminta-minta (berdo’a dan beribadah) kepada selain Alloh,
percaya kepada dukun-dukun dan melakukan perbuatan syirik lainnya?
Akankah mereka ini juga bisa membuka pintu surga? Tidak mungkin!

Dan ketahuilah, yang namanya kunci pasti bergerigi.
Begitu pula kunci surga yang berupa Laa Ilaaha Illalloh itu,
ia pun memiliki gerigi. Jadi,
pintu surga itu hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki kunci yang bergerigi.

Al-Iman Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya (3/109),
bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al-Imam Wahab bin Munabbih
(seorang Tabi’in terpercaya dari Shon’a yang hidup pada tahun 34-110 H):
“Bukankah Laa Ilaaha Illalloh itu kunci surga?
“Wahab menjawab: “Benar, akan tetapi setiap kunci yang bergerigi.
Jika engkau membawa kunci yang bergerigi,
maka pintu surga itu akan dibukakan untukmu!”

Lalu, apa gerangan gerigi kunci itu Laa Ilaaha Illalloh itu?
Ketahuilah, gerigi kunci Laa Ilaaha Illalloh itu adalah syarat-syarat Laa Ilaaha Illalloh!
Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qoshim Al-Hambali An-Najdi rahimahullah,
penyusun kitab Hasyiyyah Tsalatsatil Ushul, pada halaman 52 kitab tersebut menyatakan,  
syarat-syarat Laa Ilaaha Illalloh itu ada delapan, yaitu:

Pertama: Al-‘Ilmu (Mengetahui),
maksudnya adalah Anda harus mengetahui arti (makna) Laa Ilaaha Illalloh secara benar.
Adapun artinya adalah, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh.”
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh, niscaya dia akan masuk surga.” (HR. Muslim).
Seandainya Anda mengucapkan kalimat tersebut tetapi anda tidak mengerti maknanya,
maka ucapan atau persaksian tersebut tidak sah dan tidak ada faedahnya.

Kedua: Al-Yaqiinu (Meyakini),
maksudnya adalah anda harus menyakini secara pasti kebenaran kalimat Laa Ilaaha Illalloh tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikitpun. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh dan aku adalah utusan Alloh. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Alloh sambil membawa dua kalimat syhadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga. (HR. Muslim)

Ketiga: Al-Qobulu (Menerima),
maksudnya Anda harus menerima segala tuntunan Laa Ilaaha Illalloh dengan senang hati, lisan dan perbuatan, tanpa menolak sedikitpun. Anda tidak boleh seperti orang-orang musyrik yang digambarkan oleh Alloh dalam Al-Qur’an (yang artinya): “Orang-orang yang musyrik itu apabila dikatakan kepada mereka, (ucapkanlah) Laa Ilaaha Illalloh, mereka menyombongkan diri seraya berkata, Apakah kita harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kita hanya karena ucapan penyair yang gila ini?" (QS. As-Shoffat: 35-36)

Keempat: Al-Inqiyaadu (Tunduk atau Patuh),
maksudnya Anda harus tunduk dan patuh melaksanakan tuntunan Laa Ilaaha Illalloh dalam amal-amal nyata. Alloh Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya): “Kembalilah ke jalan Tuhanmu dan tunduklah kepada-Nya." (QS. Az-Zumar: 54). Alloh Ta’ala juga berfirman (yang artinya): “Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul (ikatan) tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa Ilaaha Illalloh). “(QS. Luqman: 22). Makna “menyerahkan dirinya kepada Alloh” yaitu tunduk, patuh dan pasrah kepada-Nya. (ed.)

Kelima: Ash-Shidqu (Jujur atau Benar),
maksudnya Anda harus jujur dalam melaksanakan tuntutan Laa Ilaaha Illalloh, yakni sesuai antara keyakinan hati dan amal nyata, tanpa disertai kebohongan sedikit pun. Nabi Shollallohu ‘Alahi wa Sallam bersabda (yang artinya): “Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Alloh mengharamkan neraka atasnya." (HR. Imam Bukhori dan Muslim)

Keenam: Al-Ikhlas (Ikhlas atau Murni),
maksudnya Anda harus membersihkan amalan Anda dari noda-noda riya’ (amalan ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain) dan berbagai amalan kesyirikan lainnya. Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Alloh 'Azza wa Jalla.“ (HR. Imam Bukhori dan Muslim)

Ketujuh: Al-Mahabbah (Mencintai),
maksudnya anda harus mencintai kalimat Tauhid, tuntunannya dan mencintai juga kepada orang-orang yang bertauhid dengan sepenuh hati, serta membenci segala perkara yang merusak Tauhid itu. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan di antara manusia ada yang membuat tandingan-tandingan (sekutu) selain Alloh yang dicintai layaknya mencintai Alloh. Sedangkan orang-orang yang beriman, sangat mencintai Alloh diatas segala-galanya." (QS. Al-Baqarah: 165). Dari sini kita tahu, Ahlut Tauhid mencintai Alloh dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan Ahlus Syirik mencintai Alloh dan mencintai Tuhan-Tuhan yang lainnya. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan isi kandungan Laa Ilaaha Illalloh. (ed.)

Kedelapan: Al-Kufru Bimaa Siwaahu (Mengingkari Sesembahan yang Lainnya),
maksudnya Anda harus mengingkari segala sesembahan selain Alloh, yakni tidak mempercayainya dan tidak menyembahnya dan juga Anda harus yakin bahwa seluruh sesembahan selain Alloh itu bathil dan tidak pantas disembah-sembah. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyatakan (yang artinya): “Maka barang siapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Alloh) dan hanya beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada ikatan tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa Ilaaha Illalloh), yang tidak akan putus…”
(QS. Al-Baqoroh: 256)

Saudaraku kaum muslimin dari sini dapatlah Anda ketahui, bahwa orang yang mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh hanya dengan lisannya tanpa memenuhi syarat-syaratnya, dia bagaikan orang yang memegang kunci tak bergerigi, sehingga mustahil baginya untuk membuka pintu surga, walaupun dia mengucapkannya lebih dari sejuta banyaknya. Karena itu perhatikanlah! Wallahu a’lam bish showab.

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua


  Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Wahai saudaraku muslim dan muslimah, jika kamu ingin berhasil di dunia dan akhirat maka kerjakanlah beberapa pesan sebagai berikut:

1. Berbicaralah kepada kedua orang tuamu dengan sopan santun, jangan mengucakan “ah” kepada mereka, jangan hardik mereka dan berkatalah kepada mereka dengan ucapan yang baik.

2. Taati selalu kedua orang tuamu selama tidak dalam maksiat karena tidak ada ketaatan pada makhluk yang bermaksiat kepada Allah.

3. Berlemah lembutlah kepada kedua orang tuamu, jangan bermuka masam di depannya dan janganlah memelototi mereka dengan marah.

4. Jaga nama baik, kehormatan dan harta benda kedua orang tua. Dan janganlah mengambil sesuatu pun tanpa seizin keduanya.

5. Lakukanlah hal-hal yang meringankan keduanya meski tanpa perintah seperti berkhidmat, membelikan beberapa keperluan dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu.

6. Musyawarahkan segala pekerjaanmu dengan orang tua dan mintalah maaf kepada mereka jika terpaksa kamu berselisih pendapat.

7. Segera penuhi panggilan mereka dengan wajah yang tersenyum sambil berkata: Ada apa, Bu! Atau: Ada apa, Pak!

8. Hormati kawan dan sanak kerabat mereka ketika mereka masih hidup dan sesudah mati.

9. Jangan bantah mereka dan jangan persalahkan mereka tapi usahakan dengan sopan kamu dapat menjelaskan yang benar.

10. Jangan kau bantah perintah mereka, jangan kamu keraskan suaramu atas mereka, dengarkanlah pembicaraannya, bersopan santunlah terhadap mereka dan jangan ganggu saudaramu untuk menghormati kedua orang tuamu.

11. Bangunlah jika kedua orang tuamu masuk ke tempatmu dan ciumlah kepala mereka.

12. Bantulah ibumu di rumah dan jangan terlambat membantu ayahmu di dalam pekerjaannya.

13. Jangan pergi jika mereka belum memberi izin meski untuk urusan penting, jika terpaksa harus pergi maka mintalah maaf kepada keduanya dan jangan sampai memutuskan surat menyurat dengannya.

14. jangan masuk ke tempat mereka kecuali setelah memdapat izin terutama pada waktu tidur dan istirahat mereka.

15. Jangan makan sebelum mereka dan hormatilah mereka dalam makanan dan minuman.

16. Jangan berbohong dengan mereka dan jangan cela mereka jika mereka berbuat yang tidak menarik anda.

17. Jangan utamakan isterimu atau anakmu atas mereka. Mintalah restu dan ridho dari mereka sebelum melakukan segala sesuatu karena ridho Allah terletak pada ridha kedua orang tua dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan mereka.

18. Jangan duduk di tempat yang lebih tinggi dari mereka dan jangan menselonjorkan kedua kakimu dengan congkak di depan mereka.

19. Jangan congkak terhadap nasib ayahmu meski engkau seorang pegawai besar dan usahakan tidak pernah mengingkari kebaikan mereka atau menyakiti mereka meski hanya dengan satu kata.

20. Jangan kikir untuk menginfakkan harta kepada mereka sampai mereka mengadu padamu dan itu merupakan kehinaan bagimu dan itu akan kamu dapatkan balasannya dari anak-anakmu. Apa yang kamu perbuat akan mendapat balasan.

21. Perbanyak melakukan kunjungan kepada kedua orang tua dan memberi hadiah, sampaikan terima kasih atas pendidikan dan jerih payah keduanya dan ambillah pelajaran dari anak-anakmu yaitu merasakan beratnya mendidik mereka.

22. Orang yang paling berhak mendapat penghormatan adalah ibumu, kemudian ayahmu. Ketahuilah bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu.

23. Usahakan untuk tidak menyakiti kedua orang tua dan menjadikan mereka marah sehingga kamu merana di dunia dan akhirat dan anak-anakmu akan memperlakukan kamu sebagaimana kamu memperlakukan kedua orang tuamu.

24. Jika meminta sesuatu dari kedua orang tuamu maka berlemah-lembutlah, berterima kasihlah atas pemberian mereka dan maafkan jika menolak permintaanmu serta jangan trelalu banyak meminta agar tidak mengganggu mereka.

25. Jika kamu sudah mempu mencari rizki maka bekerjalah dan bantulah kedua orang tuamu.

26. Kedua orang tuamu mempunyai hak atas kamu dan isterimu mempunyai hak atas kamu maka berilah hak mereka. Jika keduanya berselisih usahakan kamu pertemukan dan berilah masing-masing hadiah secara diam-diam.

27. Jika kedua orang tuamu bertengkar dengan isterimu maka bertindaklah bijaksana dan beri pengertian kepada isterimu bahwa kamu berpihak padanya jika ia benar, hanya kamu terpaksa harus merupakan penolong yang paling baik.

28. Jika kamu berselisih dengan kedua orang tua tentang perkawinan dan talak maka kembalikan pada hukum Islam karena hal itu merupakan penolong yang paling baik.

29. Do’a orang tua untuk kebaikan dan kejelekan diterima Allah maka hati-hatilah terhadap do’a dari kejelekan mereka .

30. Bersopan santunlah dengan orang, karena barangsiapa mencela orang tua seseorang maka orang tadi akan mencaci orang tuanya. Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

من الكبائر شتم الرجل والديه يسب أبا الرجل فيسب أباه ويسب أمه فيسب أمه.

“Diantara dosa-dosa besar adalah cacian seseorang terhadap kedua orang tuanya; mencaci ayah orang maka ia mencaci ayahnya sendiri, mencaci lbu orang maka ia mencaci ibunya sendiri.”

31. Kunjungilah kedua orang tuamu ketika masih hidup dan sesudah matinya, bersedekahlah atas nama mereka dan perbanyaklah do’a untuknya sambil berkata:

رب اغفر لي ولوالدي رب ارحمهما كما ربياني صغيرا.


Oleh: Syekh Mohammad Bin Jamel Zeeno.
BUKU BIMBINGAN ISLAM Untuk Pribadi Dan Masyarakat

Rabu, 02 Maret 2011

Sinetron: Yang Dibenci, Yang Dinanti




Hari gini yang punya TV pasti nggak asing sama tontonan yang namanya sinetron. Sinema elektronik atawa sinetron –istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Bapak Soemardjono, salah satu pendiri Institut Kesenian Jakarta (IKJ)-udah jadi menu sehari-hari yang buat sebagian orang kudu dinikmati. Mau yang sinetron sekali tayang habis ala FTV atau yang stripping beratus episode ala Cinta Fitri ada penggemarnya sendiri. Atau sinetron yang diimpor dari luar Indonesia kayak telenovela yang asalnya dari Amerika Latin atau soap opera alias opera sabun yang lahir pertama kali di Amerika, plus drama seri Asia yang diisi akting para artis Korea, Taiwan, dan Jepang, semua makin bikin warna sinetron di Indonesia beragam, banyak pilihan.

Banyak yang suka sama sinetron karena cerita sinetron yang bikin orang penasaran. Tiap episode berakhir dengan cerita yang dibuat ngegantung, bikin orang geregetan dan “nagih” untuk besok nonton lagi. Plus juga pemain-pemainnya yang cantik-cantik en ganteng bikin tangan makin nggak sanggup pencet remote pindah channel.
Tapi ternyata nggak semua masyarakat merespon keberadaan sinetron ini dengan suka. Ada juga sebagian masyarakat yang memilih untuk nggak nonton sinetron apalagi yang produk dalam negeri. Bahkan ada yang sampai bikin gerakan “Anti Sinetron”!

Kalau dicek n crosscek ketidaksukaan sebagian masyarakat terhadap sinetron wajar-wajar aja. Karena produk sinetron yang ada kebanyakan emang nggak bikin orang tambah pinter ngeliat hidupnya dan hidup orang lain. Nggak tambah bijak dan lihai untuk bisa ngejadiin diri cari solusi untuk permasalahan hidup yang sedang dihadapi.
Loh kan sinetron emang bukan media pendidikan kan? Sinetron kan emang peruntukkannya cuma untuk menghibur. Gitu sih ngelesnya. Iya sih. Sinetron emang dibikin untuk menghibur, tapi kan bukan berarti melupakan unsur pendidikan. Contohnya –ini contoh yang sering banget dipake, karena selain yang ini nggak ada lagi yang lain hehe..- sinetron Kiamat Sudah Dekat, Lorong Waktu, atau Para Pencari Tuhan. Lewat sinetron-sinetron tersebut banyak cerita keseharian ditampilkan plus bagaimana contoh penyelesaiannya sesuai dengan syariat Islam. Orang nggak ngerasa diguruin, nggak ngerasa diceramahin, tapi bisa dengan baik bercermin.

Sayangnya nggak banyak sinetron yang semacam itu. Ada juga sih sinetron yang mencoba tampil islami, apalagi seperti pada Ramadhan kemarin. Tapi karena global idenya masih yang kebanyakan: perseteruan karena warisan, harta, perempuan, dan mistis hantu-hantuan, walhasil nama Allah, ayat-ayat Allah yang digunakan di tiap adegan jadi tampak garing. Nggak ada “ruh” yang ditampilkan, bahkan bertentangan dengan syariat Islam.

Sinetron dihujat, rating tetap nanjak?

Nah, ini fenomena lain dari sinetron di tanah air. Banyak kejadian sinetron yang isinya dinilai banyak pihak nggak mutu tapi ratingnya tinggi. Kesimpulannya, tontonan yang nggak mutu juga banyak penontonnya. Berarti penontonnya juga banyak yang nggak mutu dong. Bisa jadi. Bener nggak tuh? Harusnya bener kan? Glodak!
Tapi, ada temuan nih yang bilang kalo rating bisa juga direkayasa. Rating yang jadi “tuhan” di jagad sinetron ternyata nggak melulu presentasi dari pilihan penonton. Apalagi mengingat lembaga perating tayangan televisi di Indonesia itu hanya diisi oleh AC-Nielsen yang asal Amerika. Posisi monopoli bisa memungkinkan segala praktek di luar kelaziman karena nggak ada yang bisa kontrol.
Jadi nggak seutuhnya bener kalo sinetron booming karena mengikuti keinginan pasar, keinginan masyarakat. Jangan-jangan masyarakat lah yang dikondisikan untuk mau nerima sinetron dengan segala jenisnya itu. Sama seperti dulu masyarakat yang semula nggak peduli sama urusan gosip via layar kaca, sekarang malah ketagihan infotaintment.
Nah lho! Kok bisa? Coba deh kita sama-sama teliti tulisan Steven Sterk yang merupakan nama samaran dari karyawan yang sudah bekerja 6 tahun di AC Nielsen. Teliti sebelum menyimpulkan, dan teliti dengan menghubungkannya dengan fakta yang ada di hadapan. Siap? Oke, ini dia.
Tujuh fakta di balik AC-Nielsen:

Pertama, AC Nielsen Indonesia tidak memiliki tenaga handal profesional yang direkrut dari luar negeri demi menjaga kerahasiaan sistem mereka, seperti yang selalu diklaimnya. AC Nielsen Indonesia yang sekarang banyak ditangani oleh para pekerja Indonesia, yang sebagian besar dari mereka adalah fresh graduated (sebagian besar adalah lulusan statistik dan matematika). Sehingga kerahasiaan sistem mereka sebenarnya tidak benar-benar seperti benda suci yang selalu mereka jaga kerahasiaannya. Mereka banyak merekrut tenaga dari dalam negeri dengan anggapan bahwa tenaga dari Indonesia adalah jauh lebih murah dibanding mempekerjakan tenaga dari negara mereka yang sudah berpengalaman. Bahkan Hampir setengah dari tenaga lapangan AC Nielsen adalah para mahasiswa yang belum lulus dengan hitungan tenaga magang. Sehingga dengan tujuan efisiensi pada sumber daya manusia, mereka bisa lebih banyak mendapat keuntungan.

Kedua, dengan banyak merekrut tenaga kerja baru lulus kuliah dan mahasiswa magang, AC Nielsen banyak memberikan toleransi kesalahan data. Terutama data-data yang ada di lapangan. Sering sekali saya alami penyimpangan data terjadi hanya karena keteledoran SDM semata-mata.

Ketiga, untuk pemilihan demografis responden rating televisi cenderung dilakukan dengan asal-asalan. Dan tidak diusahakan pemerataan pada sebaran datanya. Misalnya, untuk mengetahui berapa kecendrungan pemirsa untuk tayangan televisi A, mesti diambil jumlah responden yang seimbang misalnya untuk kelas ekonomi atas 33,3%, kelas ekonomi menengah 33,3 %, untuk kelas ekonomi bawah 33,3%, sehingga total 100%. Dengan model seperti ini, diharapkan angka rating yg didapat adalah lebih obyektif. Namun pada prakteknya, AC Nielsen Indonesia banyak mengambil data responden sebagian besar dari kelas ekonomi rendah. Profil mereka sebagian besar adalah: ekonomi kelas rendah, berpendidikan rendah, tidak mempunyai pekerjaan, bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima, karyawan toko, buruh pabrik, dan lain-lain. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian besar tayangan televisi nasional yang memiliki rating tinggi justru yang memiliki cita rasa rendah dan apresiasi seni yang rendah. Seperti tayangan gosip artis, tayangan mistik, film-film hantu, dan sinetron-sinetron picisan.
Tayangan-tayangan televisi yang justru bersifat mendidik dan mencerdaskan akan selalu mendapat nilai rating yang rendah dari AC Nielsen. Kebijakan ini diambil AC Nielsen karena ia tidak mau membayar uang imbalan untuk respondennya. Sehingga responden yang diambil adalah kebanyakan dari kaum ekonomi bawah agar bisa dibayar murah.

Keempat,untuk pemilihan responden secara geografis juga dilakukan dengan tidak merata. Sebaran data yang diambilnya tidak pernah dilakukan dengan distribusi yang sama rata secara nasional, melainkan sekitar lebih dari 60% datanya hanya terkumpul dari Jakarta saja.

Kelima, sebagai imbalan (honor), responden rating hanya mendapat souvernir senilai Rp 30,000 s/d Rp 50,000,-saja per bulannya. Sehingga responden cenderung ogah-ogahan untuk menjaga integritasnya.

Keenam, idealnya sebuah keluarga atau sebuah rumah yang menjadi responden televisi menjadi reponden selama 6 bulan saja atau maksimal selama 1 tahun. Setelah itu AC Nielsen harus mencari responden baru. Secara statistik hal itu perlu dilakukan demi menjaga obyektivitas data. Agar secara psikologis, mood responden tidak mempengaruhi data selanjutnya. Namun pada kenyataannya, seorang responden kebanyakan bisa menjadi responden selama 7 TAHUN LEBIH. Untuk hal ini adalah murni dikarenakan kemalasan dari manajemen AC Nielsen untuk melakukan pemeriksaan ke lapangan.

Ketujuh, para responden rating AC Nielsen sama sekali tidak mempunyai integritas. Dengan demikian, beberapa oknum televisi beserta oknum AC Nielsen dapat memberikan “pesanan” kepada ratusan responden sekaligus agar “memanteng” program televisi tertentu, agar hitungan rating program tersebut menjadi tinggi. Biasanya jumlah yang diajak adalah sekitar 100 s/d 700 orang dari total 3,500 responden. dengan 700 orang berarti program tersebut diharapkan sudah memegang rating 1/5 dari total rating. Biasanya tiap satu kali “memanteng” (demikian sebutannya) tiap responden meminta bayaran Rp 100,000,-. Sehingga dengan 700 orang x Rp 100,000,-, oknum pihak televisi tersebut hanya mengeluarkan uang Rp 70,000,000 saja per satu kali “manteng”. Dengan begitu angka rating dapat dimanipulasi dengan mengeluarkan biaya yang relatif murah sebenarnya bagi para stasiun televisi.

Bro en Sis, saya dapetin data ini dari sebuah blog. Silakan cek di: (http://illegalblogging.wordpress.com/2009/06/05/%E2%96%A0-kenapa-sinetron-picisan-bisa-masuk-prime-time-rating-palsu-ac-nielsen/)

Nah gimana menurut kamu setelah meneliti tulisan Steven Sterk di atas? Nyium-nyium bau nggak sedap “rekayasa” atau “konspirasi” kah? Hehehe … lebay ya pake bawa-bawa istilah konspirasi? Apapun istilahnya, fakta di lapang sinetron yang isinya nggak jelas tapi ratingnya teratas emang nggak jauh dari apa yang dibeberkan oleh Steven. Penyebabnya? Ya karena “ada main mata” antara pihak TV atau PH dengan AC Nielsen. Rahasia umum yang masih dianggap tabu oleh sebagian orang untuk dibilang bukan rahasia lagi.

Behind the scene

Sinetron bisa ada di layar kaca pastinya dengan proses. Proses berlapis yang melibatkan banyak pihak. Kalau bicara soal konten cerita ada tiga pihak yang punya peran penting yaitu produser, sutradara, dan penulis skenario, selain TV sebagai fasilitator.

Produser punya wewenang yang sangat besar untuk nentuin mana cerita yang lolos, mana yang harus direvisi dulu, mana yang harus langsung masuk tong sampah. Penulis skenario jarang banget punya bargaining position untuk menyampaikan argumentasi. Ya iyalah, karena produserlah yang punya fulus. Apalagi TV kadang punya permintaan-permintaan khusus ke PH (produser) demi upaya penyelamatan rating. Ceritanya harus ditambah porsi Si Tokoh X, dikurangin di bagian ini, yang bagian itu dihilangin aja. Begini-begitu. Begitu-begini. Jadi, nggak ada tayangan sinetron yang asli 100% eksekusi ide dari penulis.

Makanya jadi berat untuk para penulis idealis untuk bisa tetap mempertahan idealismenya, yang nggak pengen keyboard-nya dinodai pembodohan masyarakat. Semua akhirnya runtuh di hadapan kapital alias uang. Hidup kan butuh duit. Keluarga mau dikasih makan apa kalau nggak ada job nulis. Muncul dilema.
Kalau yang masih bertahan, pilihannya cuma dua. Mereka harus berusaha lebih keras lagi, doa lebih khusyuk lagi untuk bisa nyantol sama produser dan sutradara yang punya visi dan misi idealisme yang sama, dan itu jaraaa…ng banget. Atau banting stir nulis yang lain yang dinilai itu bisa menyelamatkan misinya. Ya gitulah kapitalisme bikin keinginan hidup yang lempeng jadi susah banget.

Semua kudu bertanggung jawab

Masalah mutu tayangan TV di Indonesia termasuk sinetron nggak cuma jadi tanggung jawab satu pihak. Pemerintah, pengusaha televisi, PH, juga masyarakat penonton punya porsi tanggung jawab masing-masing.
Bagi pengusaha televisi dan PH udah saatnya menginvestasikan modal yang dimiliki untuk ikut mencerdaskan bangsa. Cerdas yang nggak hanya ukuran duniawi, materi, tapi juga ukhrowi. Cerdas menjalani hidup sebagai makhluk Allah Swt.: mampu mengurai permasalahan hidup menggunakan penuntun yang sudah dianugerahkan Allah yaitu al-Quran dan as-Sunnah dan mampu menghadirkan solusi itu buat orang lain juga.

Bagi masyarakat penonton, punya tanggung jawab untuk saling mengingatkan demi saling meningkatkan kualitas diri. Kualitas sejati sebagai hamba Allah yang peduli, bervisi kebangkitan dan bermisi perjuangan bersandar keimanan, seperti yang selama ini diupayakan oleh buletin kesayangan kamu, gaulislam ini.
Tanggung jawab terbesar ada pada pemerintah sebagai pihak yang diamanahi untuk mengayomi dan membina masyarakat. Sabda Rasulullah saw: “Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad)

Sudah saatnya para pemimpin negeri ini mengambil standar yang mapan yang benar-salah, hitam-putihnya jelas dan terang yaitu syariat Islam. Sehingga tayangan pun bisa disensor atau dinilai dengan benar-salah yang juga terang. Menutup kemungkinan tumpulnya gunting sensor. Karena yang jadi korban nantinya juga anak bangsa sendiri. Jika anak bangsa rusak, negeri ini pun akan terpuruk. Dan, pastinya bukan itu yang kita semua mau

Sabtu, 26 Februari 2011




BRING BACK ISLAM

BRING BACK THE STATE
When I said no more wait
I meant..
NO MORE WAIT!!!!!!
No more watching brothers die
No more watching sisters cry
OH MUSLIM UMMAH RISE!!
Rise up from these lies
Rise up from nationalism pride
Allah is on our side
WE WILL NEVER COMPROMISE
MUSLIM FOR LIFE!
MUSLIMS UNITE!

Billion and a half Muslims
They can’t make us or break us
Don’t judge us aside
By our faces and places

COLOR BLIND…!!!

No spaces for racist
Travelers in this life
Your lies can never fool us

Islam is the ONLY solution

To the problems that face us
WE WON’T COMPROMISE ISLAM!!
These kafirs can never take us
When they drop bombs
On our brothers…It hits us
We don’t mix action with our prayer
Oh Allah……forgive us!
Let us RISE up for Islam
Like we RISE UP for fajr at dawn
Uniting under one flag,
Using Islam as our only bond
Its time to take a STAND!
Follow ONLY Allah’s Commands!
Put Khilafah back on the MAP
ITS TIME TO BRING ISLAM BACK

Jumat, 25 Februari 2011

Di Atas Luka Masih Ada Cinta




Mungkin hanya kebodohan 
atau kah sebuah ketulusan  yg salah
ketika semua yg di perbuatnya tetap saja terasa indah
walau pun terkadang tak dapat di pungkiri
bahwa semua yg di lakukannya sangat lah menyayat hati

Mestinya aku sadari
bahwa untuk memulai sesuatu itu harus di awali dengan kebaikkan
hingga tak kan menjadi hal yg menyakitkan di akhir ceritanya nanti
tapi memang ini lah sifat dari kemanusiaan ku
dan juga ketidak sempurnaan ku
Yg tersimpan khilaf dalam tingkah laku
Semoga Allah bisa memaafkan kesalahanku

Sebenarnya aku pun takkan ingin melakukan itu
Tapi apalah daya ku
Rasa cinta, telah membutakan hati ku
yg terlalu menyayangi mu
hingga tak menggunakan lagi akal sehat ku
tapi di balik semua itu
apa yg ku berikan padamu, adalah tulus adanya
dan aku yakin Allah  pun tahu akan hal itu

Walaupun pada akhirnya Allah harus mengambilmu dari hidup ku
di saat aku masih sangat menyayangimu
tapi setidaknya apa yg Allah lakukan telah menyadarkan ku
bahwa tak sepantasnya aku mencintai mu
melebihi rasa cinta ku padaNya ..
dan juga tak sepantasnya aku membohongimu
hanya karena keegoisan ku
yg terlalu menginginkanmu

Tapi yg pasti cinta tak pernah salah
karena jika cinta ini memang salah
sudah tentu Allah takkan memberikannya rasa indah
di saat aku masih bisa bersamamu
ataupun di saat aku telah kehilanganmu

Aku hanya bisa berdo’a dan berharap
semoga Allah memberikan ku, kesempatan kedua
untuk memulai semuanya dari awal lagi
dan dapat ku pastikan, tak kan ku ulangi lagi semua kesalahan
yg di awali ketidak baikkan dalam menjalankan suatu hubungan

Tapi apakah kesadaran ku ini telah terlambat
dan juga harus di bayar dengan harga yg mahal
kau yg aku sayangi, tapi kau pula lah
yg paling menyakitiku begitu dalam
namun yg pasti aku akan selalu menyayangimu
walaupun kau tak lagi menginginkanku
di dalam riwayat hidupmu
tapi aku takkan lagi perduli, meski kau selalu menyakiti
karena aku  masih punya mimpi
di suatu saat nanti kau pasti akan kembali
dan dapat mengerti
bahwa semua yg aku lakukan
semuanya atas rasa sayang dan juga ketulusan
dan takkan lagi aku hiraukan semua tingkahmu
yg terus saja menyakiti ku
karena ku tahu bukan itu sifat aslimu
dan andai kau tahu 
di atas luka ku masih ada cinta untuk mu


Di Atas Luka Masih Ada Cinta



Mungkin hanya kebodohan 
atau kah sebuah ketulusan  yg salah
ketika semua yg di perbuatnya tetap saja terasa indah
walau pun terkadang tak dapat di pungkiri
bahwa semua yg di lakukannya sangat lah menyayat hati

Mestinya aku sadari
bahwa untuk memulai sesuatu itu harus di awali dengan kebaikkan
hingga tak kan menjadi hal yg menyakitkan di akhir ceritanya nanti
tapi memang ini lah sifat dari kemanusiaan ku
dan juga ketidak sempurnaan ku
Yg tersimpan khilaf dalam tingkah laku
Semoga Allah bisa memaafkan kesalahanku

Sebenarnya aku pun takkan ingin melakukan itu
Tapi apalah daya ku
Rasa cinta, telah membutakan hati ku
yg terlalu menyayangi mu
hingga tak menggunakan lagi akal sehat ku
tapi di balik semua itu
apa yg ku berikan padamu, adalah tulus adanya
dan aku yakin Allah  pun tahu akan hal itu

Walaupun pada akhirnya Allah harus mengambilmu dari hidup ku
di saat aku masih sangat menyayangimu
tapi setidaknya apa yg Allah lakukan telah menyadarkan ku
bahwa tak sepantasnya aku mencintai mu
melebihi rasa cinta ku padaNya ..
dan juga tak sepantasnya aku membohongimu
hanya karena keegoisan ku
yg terlalu menginginkanmu

Tapi yg pasti cinta tak pernah salah
karena jika cinta ini memang salah
sudah tentu Allah takkan memberikannya rasa indah
di saat aku masih bisa bersamamu
ataupun di saat aku telah kehilanganmu

Aku hanya bisa berdo’a dan berharap
semoga Allah memberikan ku, kesempatan kedua
untuk memulai semuanya dari awal lagi
dan dapat ku pastikan, tak kan ku ulangi lagi semua kesalahan
yg di awali ketidak baikkan dalam menjalankan suatu hubungan

Tapi apakah kesadaran ku ini telah terlambat
dan juga harus di bayar dengan harga yg mahal
kau yg aku sayangi, tapi kau pula lah
yg paling menyakitiku begitu dalam
namun yg pasti aku akan selalu menyayangimu
walaupun kau tak lagi menginginkanku
di dalam riwayat hidupmu
tapi aku takkan lagi perduli, meski kau selalu menyakiti
karena aku  masih punya mimpi
di suatu saat nanti kau pasti akan kembali
dan dapat mengerti
bahwa semua yg aku lakukan
semuanya atas rasa sayang dan juga ketulusan
dan takkan lagi aku hiraukan semua tingkahmu
yg terus saja menyakiti ku, karena ku tahu bukan itu sifat aslimu
dan andai kau tahu 
di atas luka ku masih ada cinta untuk mu


Rabu, 23 Februari 2011

..Untuk Yang Terkasih..( true story )


Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
...dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,........ aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,

adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,....... sekejap saja,........ lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,

aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan,.............. sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta,................ sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

Selamat Jalan,
calon bidadari surgaku


( ...Puisi Hati BJ Habibie tuk Istri Terkasih... )

pelajaran cinta dan kesetiaan dari sang mantan negarawan...

Sikap Muslim Terhadap Sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam



Sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam merupakan sumber hukum syari’at Islam yang ke dua setelah al Qur’anul Karim. Keberadaan sunnah bisa merupakan pendukung dan penguat kandungan al Qur’an. Bisa pula sebagai tafsir dan penjelasannya. Dan secara terpisah, as-Sunnah juga merupakan landasan tasyri’ (penetapan hukum) yang melahirkan berbagai hukum, serta merupakan nash (ketetapan) untuk menghalalkan ataupun untuk mengharamkan sesuatu yang tidak tercantum di dalam al Qur’an.

Namun sangat disayangkan, masih ada sebagian orang yang mengaku muslim, namun menolak sunnah secara total. “Al Qur’an telah cukup”, begitu kata mereka. Tidak diragukan lagi, anggapan dan ucapan seperti itu adalah kedustaan, bahkan dengan begitu mereka telah mendustakan al Qur’an dan sekaligus as Sunnah. Bukankah al Qur’an telah memerintahkan untuk mengambil apa saja yang datang dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan menjauhi apa yang dilarang beliau? Sebagaimana firman Allah,

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”.
(QS. 59:7)
Ada pula kelompok tertentu yang memilah-milah Sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, yakni mengambil sebagian yang cocok dengan selera dan akalnya saja. Sementara apabila akal dan seleranya tidak cocok, maka dia tolak sunnah tersebut. Sikap seperti ini telah melanda seba-gian besar kaum muslimin. Bahkan terkadang -karena saking bodohnya- ia berani menentang sunnah, bahkan menghujatnya.

Ada juga kelompok yang menerima sunnah dan tidak menolaknya. Akan tetapi, memahaminya dengan berbagai ta’wil (interpretasi) yang jauh dari kebenaran. Seperti dilakukan oleh sekelompok orang yang silau kepada budaya barat (baca: Yahudi dan Nashara). Mereka menggulirkan faham sesat lagi memurtadkan, yaitu pluralisme dan inklusifisme. Faham ini menyejajarkan Islam dengan agama-agama lain. Semuanya diyakini benar dan diridhai Allah. Mereka tidak tahu atau pura-pura lupa dengan firman Allah,“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenar-nya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. 2:120)

Sementara itu sebagian kaum muslimin juga ada yang menyikapi sunnah Nabi dengan sikap meremeh-kan. Kalau mereka diajak untuk melaksanakan sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, mereka beralasan, “Ah itu kan cuma sunnah. Padahal yang dimaksud sunnah di sini adalah hadits, perilaku dan jalan hidup Nabi Shalallaahu alaihi wasalam di dalam ber-Islam, yang boleh jadi itu adalah wajib diyakini dan wajib dilakukan, seperti shalat fardhu berjama’ah, berumah tangga sesuai tuntunan Islam, menjawab salam dan sebagainya. Orang seperti ini, telah salah persepesi, yakni beranggapan kalau menekuni sunnah nabi berarti mengubah hukum dari sunnah menjadi wajib. Demikian pula, jika mereka diingatkan supaya tidak melakukan perbuatan yang dibenci oleh syari’at, mereka berdalih, “Ini hanya makruh saja.”
Kepada mereka perlu ditanyakan, andaikan ada dua pilihan perbuatan, yang satu hukumnya sunnah dan yang lain adalah makruh, maka apakah masih juga memilih yang makruh daripada yang sunnah? Apakah ada shahabat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam yang menanyakan sesuatu, kemudian setelah tahu bahwa itu sunnah mereka meninggalkannya? Dan ketika tahu, bahwa itu adalah makruh, kemudian mereka justru mengerjakan?”
Kedudukan As Sunnah di dalam Al Qur’an

Perlu diketahui bahwa patuh dan ta`at kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah patuh dan tekun menjalankan Sunnahnya, mengamalkan. Dan patuh kepada Sunnah berarti patuh dan taat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala . Berikut ini dalil-dalilnya:

Perintah ta`at kepada Allah dan kepada rasul-Nya, disebutkan secara bergandengan di dalam al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahnya)” (QS. 8:20)
Dan di dalam ayat yang lain desebutkan, artinya:
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” (Qs.8:24)

Allah menegaskan, bahwa petunjuk (hidayah) itu sangat tergantung kepada ketaatan dan ittiba’ kepada Nabi Nya.
“Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk” (QS. 7:158)
Dan firman Nya,

“Katakanlah, “Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk” (An Nur: 54)

Allah telah menetapkan rahmat Nya bagi para pengikut Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, dan menjanjikan keberuntungan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat atasnya.

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (QS. 7:156)
Dalam kelanjutan ayat di atas disebutkan,

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi …. Hingga pada firman Allah, “Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an). Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. 7:157)

Sahnya iman seseorang sangat tergantung kepada kepatuhan terhadap keputusan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, menerima dan lapang dada atas keputusan itu.

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa kebera-an dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. 4:65)
Di dalam ayat yang lain Allah menegaskan,

“Kemudian jika kamu berlainan penda-pat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemu-dian.” (QS. 4: 59)
Demikian pula firman Allah di dalam surat al Ahzab ayat 36, dan selainnya.

Allah telah memperingatkan bahwa menyelisihi Rasul Shalallaahu alaihi wasalam merupakan sebab kehancuran dan terjerumus dalam fitnah. Sebagaimana yang telah difirmankan,
Artinya, “Maka hendaklah orang- orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. 24:63)

Orang yang tidak mengikuti jalan rasulullah, niscaya menyesal pada Hari Kiamat kelak, sebagaimana Allah berfirman,
Artinya, “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; Kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku).” (QS. 25:27-28)

Allah telah menetapkan bahwa cinta Allah dan ampunan-Nya hanya bisa diraih dengan mengikuti Rasul -Nya:
Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 3:31)
Demikian penjelasan dari al-Qur’an yang mengajak kita semua kaum muslimin untuk berpegang kepada sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam . Karena segala ucapan beliau yang berkaitan dengan agama bukanlah berasal dari kemauan hawa nafsunya, tetapi atas bimbingan wahyu Allah.
Penjelasan dari As Sunnah (Hadits)

Amat banyak hadits Nabi yang memerintahkan setiap muslim untuk mengikuti sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, dan melarang berbuat bid’ah (menyelisihi sunnah). Di antara sabda Nabi yang menegaskan hal itu adalah:

Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam,

Artinya, “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Lalu ditanyakan, Siapakah yang enggan wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Barang siapa yang taat kepadaku, maka masuk surga, dan barang siapa yang bermaksiat kepada-ku maka dia telah enggan (masuk surga)” (HR. Al Bukhari)

Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam,

Artinya, “Biarkan aku dengan apa yang telah kutinggalkan untuk kalian (terimalah ia), sesungguhnya yang telah membinasakan orang sebelum kalian adalah (disebabkan) mereka banyak bertanya dan banyak menyelisihi nabi mereka. Jika aku melarang kalian dari mengerjakan sesuatu maka jauhilah, dan jika aku memerintahkan sesuatu maka laksanakanlah sesuai kemampuan kalian.” (Muttafaq Alaih)

Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam (dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah), di antara potongannya,
“Hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ ar Rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham (perpegang eratlah terhadapnya), dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Dawud dan at Tirmidzi dan berkata at Tirmidzi, “Hasan Shahih”)
Sikap Shahabat Nabi terhadap As Sunnah

Berkata Abu Bakar as Shiddiqz, “Tiada sesuatu pun yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, kecuali aku melakukannya dan tidak pernah aku meninggalkannya. Aku khawatir jika aku meninggalkan sedikit saja yang beliau perintahkan, maka aku akan menyimpang.”

Berkata Umar bin Khaththab Radhiallaahu anhu ketika memegang hajar aswad, “Sung-guh aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak memberi madharat dan manfaat, kalau bukan karena aku melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu.”
Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam karena ucapan seseorang”

Abdullah Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sederhana dalam melaksanakan sunnah, lebih baik daripada banyak dan giat di dalam melakukan bid’ah.”
Ibnu Umarzapabila sedang meniru Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , maka orang yang melihatnya mengira ada sesuatu yang tidak beres padanya (seperti tidak wajar). Bahkan Nafi’, maula (klien) beliau mengatakan, “Kalau aku melihat Ibnu Umar sedang mengikuti sunnah Nabi SAW sungguh aku mengatakan, ini adalah sesuatu yang gila.”
Ibnu Abbas juga pernah berkata, “Wahai manusia, aku khawatir kalau turun hujan batu dari langit, (lantaran) aku katakan pada kalian sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, lalu kalian menyanggah dengan mengatakan “Abu Bakar berkata begini dan Umar berkata begitu!.”

Wallahu a’lam

TAUBAT DAN HARGA DIRI



Kita semua tahu bahwa jalan terakhir dari sebuah perbuatan salah adalah menebus kesalahan tersebut dengan sebuah kebaikan yang tidak perna putus. Atau, dengan kata yang lebih terkenal adalah melakukan taubatan nasuha. Tidak jarang kita mendengar orang yang dulunya seorang bajingan kini menjadi alim ulama, atau ada juga orang yang dulunya alim dan besar dipesantren tapi malah terjerumus dalam dunia hitam.
karena dalam suatu dosa ada dua hak: hak Allah SWT dan hak manusia. Maka taubat dari dosa itu adalah dengan meminta maaf kepada manusia karena hak orang itu atasnya; dan dengan menyesali perbuatan itu untuk menghapus dosa di hadapan Allah SWT, karena hak Allah SWT atasnya.
Syukur-syukur bisa melakukan taubat kecuali amal kebaikan dengan tanggungan dosa keburukan. (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari) sebelum ajal memanggil bagaimana jika tidak ???

"Barangsiapa yang telah melakukan kezaliman kepada saudaranya, baik harta maupun harga diri, maka pada hari ini hendaklah ia meminta dibebaskan, sebelum datang hari tidak berguna padanya dinar dan dirham, kecuali amal kebaikan dengan tanggungan dosa keburukan. (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari)

Sering kita bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi atau menimpa mereka yang seyogya nya anak “baik-baik”. Kasihan, mungkin itulah kata yang terlontar dari mulut kita. Tapi pernahkah kita bertanya mengapa atau pernahkah kita mencari tahu sebab musababnya. Pada dasarnya, nafsu dan harga diri berhubungan erat. Terlebih lagi jika iman sudah mulai menipis dan hanya tinggal sisa-sisa. Harga diri, adalah sebuah hal yang sangat urgent bagi setiap makhluk yang bernama manusia. Dan hal ini, dimanfaatkan dengan baik oleh syaitan sehingga bisa dicemari oleh nafsu. Hasilnya? Tentu saja sebuah kesombongan luar biasa dan sebuah kekhwatiran yang tidak beralang.

Banyaknya manusia yang terjebak dalam jaman disebabkan karena mereka merasa bahwa ada harga yang harus dikorbankan. Dan bila harga itu dikorbankan maka ia merasa bahwa dunianya telah hilang. Asstaghbirullah.. Inilah biang kerok mengapa begitu banyak manusia susah untuk bertobat. Pada dasarnya taubat itu sangat mudah, semudah kita melafalkan syahadat. Tapi, bila telah di antukkan dengan kenyataan maka hal tersebutlah sebuah kenyataan pahit.

Banyak yang takut bertobat karena takut kehilangan teman mainnya, dunia malamnya, prestige nya hilang karena ia berjenggot. Bagi mereka, itulah sebuah harga diri yang tidak pantas dibuang. Ukurannya pun adalah dunia pergaulan. Berapa banyak yang bangga dengan apa yang pakainya, dengan siapa ia berteman, dimana ia kuliah, dan kemana jika  bergaul, Itulah yang terkadang menjadi ukuran harga diri.

Maka hendaklah kita bertaubat, sebelum godaan/cobaan tersebut datang kepada diri kita. Allah S.W.T akan selalu membuka pintu taubat nya untuk semua orang termasuk diri kita sendiri.

“Dan terhadap orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (at taubah 118)

Jika demikian manakah yang terpenting diantara keduanya. Tak bisakah kita terus dan terus mengalahkan sesuatu yang memang seharusnya dikalahkan. Harga diri tentu saja penting, tapi harga diri yang bagaimanakah yang ingin dibentuk? Salah kaprah mengenai pengertian harga diri dan salah kaprah dalam penempatan inilah yang selalu menjadi masalah. Negeri ini, mungkin saja sudah salah kaprah mengenai harga dirinya. Negeri ini, berpikir bahwa dengan mengirim aurat mungkin bisa mengangkat harkat derajat tapi apa yang didapat. jika ditanya manakah yang terpenting, silahkan anda jawab sendiri. Karena orang yang bertaubat adalah orang yang berani mengambil keputusan. Jangan pernah berpikir untuk bertaubat jika jiwa anda adalah jiwa seorang pengecut. Ibarat pemimpi yang hanya berani untuk bermimpi tidak pernah berpikir untuk menjadikannya nyata, sekarang tinggal kita masing - masing gimana menanggapinya.

Kerendahhatian dan Kesombongan





Rendah hati adalah salah satu dari konsep-konsep inti yang sering diingatkan kepada kita secara berulang-ulang. Rendah hati adalah tanda iman sedangkan kesombongan adalah tanda kafir
Jika kerendahhatian dianggap identik dengan iman dan kesombongan dianggap identik dengan kafir, itu karena iman membimbing manusia kepada pemahaman dan kebijaksanaan, sementara kafir menghalangi seseorang dari memperoleh kebaikan. Dengan membangun kesadaran akan Allah melalui kearifan, seseorang yang memiliki iman dalam hatinya tidak akan pernah berani menyombongkan diri. Dia menerima dengan rela bahwasanya Allah berkuasa atas segala sesuatu, sedangkan dia sebagai manusia hanyalah seorang hamba yang diberkahi dengan banyak kenikmatan. Orang yang mendapat hidayah melihat kekuasaan Allah dalam segala hal dan menyadari kelemahan dirinya sebagai manusia yang merasa lapar, mudah mendapat sakit dan menderita rasa sakit. Dia tidak dapat mencegah dirinya dari bertambah tua. Dia tidak menciptakan dirinya sendiri dan juga tidak dapat menghindari mati. Dengan tubuh yang cenderung kepada kelemahan, dia ditakdirkan hidup untuk periode waktu tertentu hingga pada akhirnya dia mati dan kembali kepada Penciptanya. Tidak ada satu alasanpun yang pantas baginya untuk menyombongkan diri. Bahkan seandainyapun dia memiliki hal yang pantas untuk disombongkan, dia tetap tidak layak untuk menyombongkannya karena semuanya, baik itu dirinya maupun yang dia miliki, adalah pemberian Allah. Karena itu sudah selayaknya dia berterima kasih ketimbang menyombong. Pengakuan akan keagungan sang pencipta, dengan sendirinya akan memimpin orang itu. Dia benar-benar sadar akan kelemahannya di mata Allah, namun dia tidak menunjukkannya kepada orang lain. Sebaliknya, dia dikenal sebagai orang yang bermartabat, terhormat, rendah hati, percaya diri, dan dewasa.
Akibat kurang mampu untuk memahami Allah, orang kafir tinggal di dalam cengkeraman kesombongan dan kebanggaan mereka yang percuma. Mereka merasa memiliki identitas terpisah yang bebas dari Allah. Kelebihan pribadi seperti kecerdasan, kesejahteraan, penampilan menawan, kemasyhuran, menjadi hal-hal yang membuat mereka memuji diri mereka sendiri. Mereka tidak mengerti bahwa semua itu adalah berkah yang diberikan oleh Allah dan dapat dicabut sewaktu-waktu. Aspek lain dari orang kafir adalah rasa rendah diri yang berlebihan. Hal ini secara umum adalah akibat dari ketidakmampuan untuk mencapai status atau standar hidup tertentu. Akibat ketidaksadaran total akan konsep-konsep kunci semacam itu serta konsep kepatuhan dan keyakinan kepada Allah, orang kafir dapat mengalami penderitaan dari berbagai macam penyakit jiwa yang berbeda, dan yang terbanyak adalah rendah diri yang berlebihan atau terlalu tinggi hati. Keadaan mereka didefinisikan di dalam Al-Qur'an sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang yang membantah dalil-dalil Kami tanpa alasan, yang mereka peroleh itu tidak lain karena kesombongan nafsu ingin mendapat atau mempertahankan kedudukan sebagai orang besar, padahal maksudnya itu tidak akan tercapai. Oleh karena itu mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Al-Mukmin:56
Seseorang yang berada dalam keadaan ini menemukan bahwa segala sesuatunya tidak berarti kecuali keberadaannya sendiri. Di matanya segalanya adalah alat untuk memuaskan egonya. Dia terus-menerus berada dalam usahanya memuji dirinya sendiri. Dia menyangkal kegagalan-kegagalannya dan tidak pernah mengakui bahwa dia berasal dari jenis manusia yang sangat mungkin berbuat salah. Pada beberapa hal, dia mengembangkan kebencian yang hebat terhadap agama. Hal ini pada dasarnya karena agama mengajarkan kebenaran yang unik bahwa seorang manusia hanyalah hamba Allah yang mana keberadaannya secara total bergantung pada Allah. Namun karena termakan habis-habisan oleh harga dirinya, dia menjadi buta pada kebenaran yang ditunjukkan oleh agama. Di dalam penyangkalan itu, dia berpegang teguh pada pendiriannya sendiri tentang hidup. Al-Qur'an menjelaskan tentang orang-orang semacam ini sebagai berikut:
Mereka mengingkarinya karena zalim dan sombong, padahal hati mereka meyakini kebenarannya. Sebab itu perhatikanlah bagaimana kesudahannya orang-orang yang berbuat onar. An-Naml:14
Karena terbelenggu oleh kesombongannya, orang semacam itu hidup demi memuaskan ego mereka sendiri. Tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah orang-orang yang cenderung kepada berbuat kejahatan. Ayat di bawah ini memperingatkan kita tentang tindakan mereka yang memperdayakan:
Di antara manusia Golongan manusia ini ialah orang-orang yang perkataanya berbeda dengan perbuatannya atau berbeda dengan apa yang tersembunyi di dalam hatinya. Keahliannya dalam memutar-balikkan sesuatu dan memutar lidahnya dalam pembicaraannya hingga dapat menarik perhatian pendengar adalah senjata ampuhnya . Dia dapat mempertahankan pendiriannya yang salah, dengan kepintaran memutar lidah semata. Golongan manusia yang seperti ini, ada pada tiap-tiap bangsa dan masa ada golongan yang ucapannya menarik perhatianmu mengenai kehidupan dunia ini, dan dipersaksikannya dengan nama Allah atas kebenaran isi hatinya, padahal dia adalah musuh utama. Dan apabila dia telah pergi meninggalkan pendengarnya, maka ia membuat kerusakan di muka bumi, dirusakkannya sawah ladang dan ternak Dalam hubungan itu sebagian cendekiawan muslim berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sawah dan ladang ialah perempuan. Yang dimaksud dengan ternak ialah turunan. Ini berdasarkan ayat Tuhan. (Lihat 2:223). Maka dengan ini yang dimaksud merusak sawah ladang ialah merusak kehormatan perempuan dengan menggaulinya dengan cara tidak sah, untuk kemudian melahirkan anak (turunan) yang tidak sah pula. Dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Dan bila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah!", serta merta timbul keangkuhannya yang menjurus kepada dosa. Cukuplah neraka jahanam sebagai balasannya; dan itulah tempat tinggal yang seburuk-buruknya. Al-Baqarah:204-206
Dalam ayat lain, sikap dari orang-orang yang sombong dinyatakan sebagai berikut:
Didengarnya beberapa dalil Allah yang dikemukakan kepadanya, kemudian dia tetap menyangkal dengan sombongnya, seolah-olah dia tidak mendengarkannya. Karena itu, gembirakanlah dia dengan siksaan yang pedih. Al-Jatsiyah:8
Menyangkal kebenaran hanya karena kesombongan belaka, adalah kunci pemahaman tentang arti kesombongan. Dengan berbuat sombong berarti seseorang telah memilih jalan kesedihan baik itu di dunia maupun di akhirat nanti. Itulah sebabnya kesombongan menjadi musuh manusia yang paling membahayakan.
Bahkan kesombongan pulalah yang menjadi alasan penolakan Iblis untuk memberikan penghormatan kepada Nabi Adam. Hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur-an dalam sebuah cerita:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Manakala telah kusempurnakan kejadiannya dan setelah kutiupkan roh ciptaanKu; hendaklah kamu merendahkan diri sujud kepadanya." Lalu para malaikat itu sujud semuanya; kecuali iblis. Dia berlagak sombong, dan dia termasuk orang-orang yang kafir. Tuhan bertanya: "Hai iblis, apakah gerangan yang menghalangimu untuk sujud kepada seseorang yang telah Kuciptakan dengan kekuasaanKu? Apakah kamu berlagak sombong atau merasa diri tergolong orang yang lebih tinggi?" Iblis menjawah: "Aku lebih baik dari padanya. Engkau menciptakanku dari api, sementara dia Engkau ciptakan dari tanah. Tuhan berfirman: "Keluarlah kamu dari Syurga, sesungguhnya engkau sudah terusir." Dan kutukanKu tetap atasmu sampai "Hari Pembalasan." Sad: 71-78
Pernyataan yang digunakan iblis di dalam ayat tersebut sangatlah mengejutkan dan mencerminkan watak kejinya. Iblis dikuasai oleh perasaan tak berdasar yang membuatnya merasa lebih penting dari Adam. Iblis enggan mengakui bahwa Allah-lah yang sanggup memuliakan makhluk. Padahal dengan diperintahkannya malaikat untuk bersujud pada Adam, jelas bahwa Iblis pun kalah mulia dari Adam karena sebelum adanya Adam, malaikat adalah makhluk yang paling mulia diantara semua makhluk. Tidak satu makhlukpun yang berani melawan perintah Allah namun Iblis berani dan sebagai akibatnya dia dikutuk selama-lamanya.
Iblis memberikan sebuah contoh jahat bagi orang-orang yang mengikuti jalannya. Iblis memberontak kepada Allah dan mendorong manusia untuk memberontak juga. Ayat di bawah ini menjelaskan tentang bagaimana manusia disesatkan:
Tuhan berfirman: "Hai iblis mengapa kamu tidak sujud menyertai mereka?". Iblis menjawah: "Aku tidak layak bersujud kepada makhluk yang Engkau ciptakan dari jenis "tanah liat yang dibentuk itu". Allah berfirman: "Keluarlah dari sini, karena kamu terkutuk, sedang kutukan itu selalu akan menimpamu sampai hari kiamat". Berkata iblis: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari kebangkitan manusia". Tuhan menjawah: "Kamu diberi tangguh, sampai pada suatu hari, yang waktunya sudah dikenal Maksudnya "Hari tiupan sangkakala yang pertama yaitu pada saat berakhirnya hari-hari dunia", dan permulaannya "hari-hari akhirat", di mana semua makhluk yang ada di langit dan yang ada di bumi dimatikan. Itulah permulaan kiamat, ditandai dengan tiupan sangkakala yang pertama. Iblis berkata lagi: "Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku ini makhluk sesat, maka aku akan merangsang anak cucu Adam di muka bumi ini untuk berbuat maksiat, dan akan kubawa sesat mereka semuanya. Al-Hijr:32-39
Iblis menginginkan manusia untuk tersesat juga. Ini adalah tipe kepuasan jiwa yang juga ada pada manusia. Sama seperti halnya Iblis, seseorang yang melakukan kejahatan juga menginginkan orang lain melakukan kejahatan dan dihukum juga. Harapan untuk berbagi kejahatan; dan dengan demikian juga berbagi hukuman, telah menjadi hiburan bagi orang-orang yang menolak beriman dan mengingkari keberadaan Allah karena mereka tahu bahwa mereka juga dikelilingi oleh orang-orang yang juga tersesat. Rasa sentimen seperti "Semua orang juga melakukannya" dan "Jika orang-orang masuk neraka saya juga", biasanya diungkapkan. Alasan dari pernyataan ini adalah logika seperti yang dijelaskan di atas. Iblis sadar betul akan keberadaan dan kekuasaan Allah namun karena dikendalikan oleh rasa tinggi hati yang berlebihan, dia mengharapkan "perlakuan istimewa" dan ingin menikmati hak-hak istimewa pula. Itulah sebabnya dia menolak ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Adam. Di dalam Al-Qur'an digambarkan bagaimana orang-orang kafir sebenarnya mengakui keberadaan Allah, namun karena "percaya bahwa mereka memiliki beberapa keunggulan istimewa", mereka ingin menikmati hal-hal tertentu di atas orang lain. Apalagi banyak orang tersesat yang menganggap diri mereka "kekasih Allah". Di dalam Al-Qur'an sikap mental semacam ini sering ditegaskan:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihnya-Nya". Katakanlah! kalau begitu mengapa Tuhan menyiksamu karena dosa-dosamu?". Tidak benar kamu adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih Tuhan, tetapi kamu adalah manusia biasa di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya pula. Dan kepunyaan Allah-lah kekuasaan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya. Dan kepada-Nya-lah tempat kembali segala-galanya. Al-Maidah:18
Perasaan istimewa dan superior terwujud dalam berbagai bentuk. Islam mengajarkan kepada manusia bahwa manusia berhutang kehidupannya kepada Allah dan manusia tidak memiliki hal apapun kecuali apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Menolak fakta ini adalah penyebab utama yang membuat sebagian besar manusia tersesat. Apakah bedanya pernyataan Iblis yang menyatakan "Aku diciptakan dari api" dengan peryataan "Aku anggota keluarga terpandang", "Aku memiliki banyak uang", atau "Aku berpenampilan menawan". Hal-hal tersebut menjadi alasan atas kesombongan mereka. Peristiwa Qarun adalah contoh nyata seperti yang diceritakan dalam surat Al-Qasas:76-83.
Seperti yang kita lihat pada ayat di atas, Qarun dan orang-orang sejenisnya percaya bahwa mereka diberi anugrah karena sifat-sifat tertentu yang mereka miliki sehingga pantas ditolong oleh Allah dan menganggap orang miskin sebagai orang yang tidak pantas mendapat pertolongan dari Allah. Mereka lupa dan menyangkal bahwa semua sifat-sifat tersebut pada dasarnya adalah anugrah Allah. Pernyataan Qarun: "Harta ini diberikan kepadaku karena ilmu tertentu yang aku miliki", adalah suatu kesombongan. Inilah sebabnya orang merasa penting dan suka memaksa kepada orang lain ketika merasa dirinya berhasil, makmur, dan berkuasa. Orang-orang yang demikian adalah orang-orang yang menganggap diri mereka kekasih tercinta Allah.
Manusia itu tidak pernah jemu memohon kebaikan, tetapi jika dia ditimpa malapetaka, dia putus-asa dan hilang harapan. Bila mereka Kami beri karunia setelah mereka menderita kesengsaraan, mereka katakan: "Inilah hakku, dan aku tidak yakin bahwa kiamat itu akan terjadi. Namun bila aku dikembalikan kepada Tuhanku, tentu sejumlah kehormatan telah ada untukku pada sisi-Nya". Sesungguhnya Kami akan memberitahukan kepada orang-orang kafir itu perbuatan maksiat yang pernah mereka kerjakan, lalu kami rasakan siksaan yang keras kepadanya. Fusshilat: 49-50
Sebaliknya orang-orang beriman tidak yakin bahwa dirinya pantas masuk surga. Itulah sebabnya orang beriman menyembah Tuhan mereka dalam "rasa takut dan harap" (As-Sajadah:16). Mereka mengharap Allah dan berdoa "Lindungilah kami dari api neraka (Al-Baqarah:201) "Jangan biarkan kami tersesat setelah kami Engkau beri petunjuk" (Al-Imran:8) "Hadirkanlah jiwa kami di hadapanmu sebagai orang muslim yang tunduk pada keinginanmu" (Al-A'raf:126). Semuanya itu jauh dari sifat orang kafir yang merasa pasti bahwa dirinya akan masuk surga. Kesombongan adalah penghalang bagi keselamatan abadi seseorang karena Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi menyombongkan diri (Al-Hadid:22). Ayat-ayat di bawah ini memperingatkan manusia secara berulang-kali untuk menghindari kesombongan:
Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan congkak. Sebab engkau tidak akan mampu menembus bumi, dan tidak pula akan dapat menjulang setinggi gunung. Al-Isra:37
Dan janganlah engkau membuang muka penuh kesombongan terhadap orang lain dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sebab Allah tidak senang terhadap semua orang yang sombong lagi angkuh. Luqman:18
Tiada suatu bencanapun yang menimpa masyarakatmu di bumi Seperti musim paceklik, bencana alam, penjajahan, dan lain-lain atau yang langsung menimpa dirimu sendiri, hanya sudah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum bencana itu Kami ciptakan. Hal itu bagi Allah mudah saja. Demikianlah agar kamu jangan terlalu berduka cita terhadap sesuatu yang sudah luput darimu, dan jangan terlalu gembira terhadap sukses yang telah kamu capai. Allah tidak menyukai kepada semua orang yang sangat sombong dan bersikap angkuh. Al-Hadid:22-23
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan apapun juga. Dan berbaktilah kepada kedua orang ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh Sekalipun tetangga jauh itu bukan muslim, teman sejawat Yang dimaksud adalah teman dalam perjalanan, orang-orang yang dalam perjalanan, dan hamba sahaya yang berada di bawah kekuasaanmu. Sesungguhnya Allah tidak menyenangi orang-orang yang sombong dalam gerak-geriknya lagi sombong dalam ucapannya. An-Nisa:36
Di dalam Al-Qur'an, orang beriman berulang kali diingatkan untuk rendah hati dan bersikap lunak. Orang beriman secara teliti menghindari kesombongan karena mereka dapat memahami ayat bahwasanya Allah membenci orang-orang yang sombong lagi menyombongkan diri. Karena itu Al-Qur'an mendeklarasikan bahwa kerendahah-hatian adalah kebaikan dasar orang beriman.
Bagi masing-masing umat yang beragama, telah kami syari'atkan ibadah kurban Maksudnya menyembelih binatang ternak atas dasar pengarahan: mendekatkan diri kepada Allah semata. Islam menyatukan arah semua aktifitas muslim, baik dalam tutur-kata maupun amal perbuatan ke satu arah, yaitu: Allah. Tidak terkecuali dengan ibadah kurban ini. Itulah warna kehidupan muslim dan itu pulalah akidah muslim. Maka berdasarkan kesatuan arah ini pulalah diharamkan memakan daging binatang sembelihan yang tujuan menyembelihnya menyimpang dari akidah tauhid, dengan menyebut nama selain Allah. Misalnya nama berhala anu, batu keramat ini, tempat keramat itu, dan sebagainya, dan sebagainya, supaya mereka menyebut nama Allah pada waktu menyembelihnya dan bersyukur kepadaNya atas pemberian binatang ternak itu kepadanya. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kepadanya! Dan berilah berita gembira orang-orang yang tunduk patuh kepada Tuhan. Al-Hajj:34
Hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih ialah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang yang bodoh mengucapkan kata yang tidak sopan kepadanya, dijawabnya dengan: "Selamat Sejahtera!" Al-Furqan:63
Itu kampung akhirat yang pernah kau dengar beritanya Kami jadikan kenikmatannya bagi orang-orang yang tak pernah berlagak sombong dan merusak di permukaan bumi. Dan syurga, adalah akibat yang baik bagi orang yang takwa. Al-Qasas: 83 Adapun yang beriman dengan ayat-ayat Kami, tidak lain hanya orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat itu, mereka menyungkur sujud sambil mengucapkan puja dan puji kepada Tuhannya, lagi mereka tidak pernah bersikap sombong. As-Sajadah:15
Ini adalah hal yang agak penting untuk dipertimbangkan. Apakah seseorang itu beriman ataukah tersesat, bergantung pada sombong atau rendah hatikah dia. Akibat-akibat dari kesombongan dijelaskan dalam ayat-ayat di bawah ini:
Akan Aku belokkan orang-orang yang bersikap sombong di muka bumi tanpa alasan yang benar dari memahami tanda-tanda kekuasaanKu Petunjuk dan keberuntungan yang dibawa oleh Syari'at Tuhan. Ciri-ciri orang yang sombong itu ialah: Jika mereka melihat ayat-ayat-Ku mereka tidak mempercayainya, jika mereka melihat petunjuk jalan mereka tidak mau melaluinya, dan bilamana mereka melihat jalan kesesatan mereka langsung menempuhnya. Yang demikian itu disebabkan mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami dan selalu lalai dari padanya. Al-A'raf: 146
Orang-orang yang memerangi para pendakwah juga sombong seperti halnya orang-orang yang memerangi para rasul. Orang seperti itu didefinisikan sebagai "para pemimpin orang kafir" atau "orang-orang yang bersikap sombong" yang di dalam Al-Qur'an disebut sebagai menolak mematuhi rasul karena kesombongan dan arogansi. Mereka menolak bimbingan orang lain kepada jalan kebenaran. Atas dasar sikap suka menentang, mereka menganggap tak ada halangan. Kesombongan para pemimpin orang kafir ini sering disebut di dalam Al-Qur'an:
Pemuka-pemuka kaumnya yang sombong, mengatakan kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman diantara mereka, katanya: "Tahukah kalian bahwa Shalih diutus menjadi Rasul oleh Tuhannya?" Mereka menjawah: "Sesungguhnya kami ini beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada Shalih di mana ia disuruh menyampaikannya". Orang-orang yang sombong itu berkata lagi: "Sesungguhnya kami tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu". Orang yang terkemuka dari kaum Syu'aib itu berkata: "Hai Syu'aib kami akan mengusir kamu dan pengikut-pengikutmu yang beriman itu dari negeri kami ini, atau kamu bersedia menganut kembali agama kami. Syu'aib menjawab: "Apakah akan kamu paksa juga, sekalipun kami tidak sudi?" Al-A'raf: 75-76; 88
Orang sombong menetapkan standar tertinggi atas status sosial, kemakmuran, dan kemasyhuran. Utusan manapun yang tidak dapat memenuhi standar tersebut, akan mereka anggap sebagai orang yang tidak mampu untuk memimpin manusia kepada jalan kebenaran. Sikap bawaan yang paling lazim dari orang kafir adalah kecenderungan mereka untuk memberontak melawan para utusan terpilih Allah.
Dalam Al-Qur'an, pemberontakan Bani Israil melawan Thalut, seorang pemimpin yang diutus kepada mereka, diceritakan sebagai berikut:
Nabi mereka berkata lagi kepada mereka. "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Mana mungkin Thalut akan dapat merajai kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, lagi pula ia tidak mempunyai kekayaan yang cukup banyak". Nabi mereka menjawab: "Sungguh, Allah yang telah memilihnya menjadi rajamu, dan akan menganugrahinya dengan ilmu yang luas dan keperkasaan" Mereka berpendapat bahwa yang patut menjadi raja ialah mereka dari turunan raja-raja dan bangsawan serta kaya-raya. Padahal syarat yang diperlukan untuk seorang raja ialah: memiliki kepribadian yang menonjol, mempunyai ilmu pengetahuan yang luas di segala bidang. Dan Allah menganugrahi kerajaan kepada orang yang disukai-Nya, dan Allah itu Maha Luas Pemberian-Nya dan Maha Mengetahui. Al-Baqarah: 247
Juga selama periode Nabi Muhammad, orang terkemuka pada masa itu dengan berapi-api menentang beliau (Az-Zukhruf: 37). Sikap perlawanan mereka, tidak salah lagi, dihasilkan dari kebiasaan mereka menilai orang berdasarkan kesejahteraan, harta, dan nama baik. Mereka baru akan patuh apabila utusan yang dikirim adalah orang terkemuka dan kaya. Namun mematuhi seseorang hanya karena dia dipilih oleh Allah saja, bagi mereka sangat sulit karena mereka sombong. Hal yang sama terjadi pada Nabi Shaleh:
Kata mereka: "Apakah kita akan mengikuti seorang manusia biasa dari kalangan kita sendiri. Jika demikian kita ini benar-benar dalam kesesatan, gila macam kuda liar?" Apakah terhadap orang biasa di antara kita itukah wahyu itu diturunkan? Padalah dia seorang pendusta lagi sombong. Kelak mereka akan tahu siapa sebenarnya yang bohong dan sombong itu. Al-Qamar: 24-26
Dalam memahami betapa sombongnya orang yang tersesat, Surat Al-Mudatsir menerangkan kepada kita secara jelas. Surat itu menerangkan tentang seseorang yang diberi banyak anugrah oleh Allah, yang mendengar dan memahami ayat Allah tapi juga tidak mematuhi perintah Allah hanya karena kesombongan belaka. Untuk itu dia pantas dihukum dengan cara dibuang ke neraka:
Biarlah Aku sendiri yang bertindak atas orang yang telah Kuciptakan "sebatangkara" Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan sehubungan dengan tingkah polah seorang pimpinan kafir Quraisy, yang bernama Walid bin Mughirah. Dia dilahirkan sebatangkara lagi papa. Lalu ia menjadi kaya-raya, serta dapat pula kekuasaan dengan menduduki kursi pimpinan dalam masyarakat kafir Quraisy. Dan telah Kuberikan kepadanya harta benda yang melimpah ruah; dan anak-anak yang selalu mendampinginya. Dan aku lapangkan baginya rezeki dan kekuasaan selapang-lapangnya. Lalu ia ingin sekali supaya harta benda dan kekuasaan itu Aku tambah lagi. Sekali-kali tidak akan Kutambah! Karena dia sangat menentang ayat-ayat kami. Akan Kutimpakan kepadanya siksaan yang tidak tertanggungkan. Dia telah memikirkan rencana penolakan Al-Qur'an semasak-masaknya, dan menetapkan tindak pelaksanaannya. Maka terkutuklah dia! Bagaimanapun "cara" yang diperbuatnya. Sekali lagi terkutuklah dia! Bagaimanapun "lampah" yang dilakukannya. Lalu ia berpikir tentang Al-Qur'an berkali-kali. Lalu di bermuka asam dan memberengut. Sesudah itu dia berpaling terus pergi dengan rasa penuh keangkuhan. Lalu dia berkata: "Al-Qur'an ini adalah sihir orang lain yang diambil alih oleh Muhammad". Dan tidak lain, hanyalah perkataan manusia belaka. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Sampai dimana pengetahuanmu tentang neraka Saqar itu? Neraka Saqar itu, tidak menyisakan daging, dan tidak pula membiarkan tinggal tulang-tulang. Pembakar kulit manusia. Al-Mudatsir: 11-29
Pada ayat lain keadaan orang sombong di neraka digambarkan sebagai berikut:
Diperintahkan kepada penjaga neraka: "Tangkaplah orang yang berdosa itu dan seretlah ke tengah-tengah neraka!". "Kemudian tuangkanlah ke atas ubun-ubunnya air mendidih tadi sebagai siksaan. "Rasakanlah! Karena engkau pernah mengatakan bahwa engkau orang yang perkasa dan mulia Ucapan ini dilontarkan sebagai ejekan dari Nabi Muhammad terhadap lawannya Abu Jahal, ketika dibunuh pada masa Perang Badar. Demikian Al Umawi dalam beberapa kisah pertempurannya yang diutarakan oleh 'Ikrimah. Siksaan ini adalah siksaan yang waktu di dunia dahulu engkau sangsikan. Ad-Dukhan: 47-50
Manusia hanyalah hamba Allah. Sadarilah keadaan diri sebelum Allah menyadarkan. Hendaknya seseorang menyadari bahwa dia tidak memiliki apapun karena semuanya adalah anugrah Allah. Karenanya dia akan menemukan pertolongan sejati dengan berterima kasih kepada Allah. Jika dia mulai menampakkan kesombongan atas anugrah yang diterimanya, dia akan segera kehilangan kenikmatan yang diperoleh dari anugrah itu. Allah membimbing orang yang menyadari bahwa dia hanya seorang hamba. Namun jika manusia bertindak sebaliknya, dia akan mendapat kemurkaan tuhannya sebagaimana yang diceritakan pada ayat di bawah ini:
Al-Masih sendiri sekali-kali tidak merasa rendah menjadi hamba Allah begitu juga malaikat-malaikat yang terdekat dengan Allah Yaitu di antaranya ialah Malaikat Jibril (Ruhul Kudus) yang membawa perintah penciptaan Al-Masih An-Nisa: 172.
Adapun orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Al-A'raf: 36
Adapun orang yang tidak menyombongkan diri lagi bersikap lunak, adalah hamba Allah sejati dan akan dihadiahi dengan surga:
Itu kampung akhirat yang pernah kau dengar beritanya. Kami jadikan kenikmatannya bagi orang-orang yang tidak mau berlagak sombong dan tidak mau merusak di permukaan bumi. Dan syurga, adalah akibat yang baik bagi orang-orang yang takwa. Al-Qasas: 83
Diterjemahkan dari buklet "The Basic Concepts in The Qur'an" karya Harun Yahya. www.harunyahya.com. Terjemahan Al-Qur'an dikutip dari "Terjemah dan Tafsir Al-Qur'an" susunan Bachtiar Surin terbitan Fa. SUMATRA Bandung.

Saatnya Menguji Kecerdasan Imam Syafi’i



Di masa pemerintahan Harun Ar-rasyid ada sekelompok orang yang iri dengan kecerdasan Imam Syafi’i. Mereka ingin mempermalukan sang Imam di depan Harun Ar-rasyid. Mereka kemudian mengajukan beberapa pertanyaan pada Imam Syafii.

Seseorang bertanya kepada Sang Imam “ Ada dua orang muslim berakal yang minum khamar. Salah satunya diganjar hukuman Hadd dicambuk sebanyak 80 kali . Tapi yang satunya tidak diapa-apakan. Mengapa bisa demikian ?” Tanya salah seorang di antara mereka pada Imam Syafii.

Kemudian Sang Imam menjawab “Salah seorang diantara mereka berdua itu sudah baligh sehingga ia harus dihukum hadd. Sedangkan satunya belum baligh, sehingga ia tak diapa-apakan,” jawab Imam Syafii mantap.
Orang yang kedua kemudian bertanya “Ada 5 orang menzinahi seorang wanita. Orang pertama divonis bunuh. Orang kedua dirajam. Orang ketiga dihukum hadd. Orang keempat dikenai setengah hokum hadd. Sedangkan orang kelima dibebaskan. Kenapa bisa demikian ?”

Kemudian Sang Imam menjawab “Orang pertama menghalalkan zina sehingga ia harus divonis murtad dan wajib dibunuh. Orang kedua muhshan (sudah menikah) sehingga ia harus dirajam. Orang ketiga ghairu muhshan (belum menikah) sehingga ia harus dihukum hadd. Orang keempat seorang budak yang harus dihukum setengah hokum hadd. Sedangkan orang kelima gila sehingga ia tak mendapat hukuman apapun,” papar Imam Syafii.

Orang yang ketiga kemudian bertanya “Seorang laki-laki mengambil sebuah wadah air untuk minum. Namun ia hanya bisa meminum separuhnya yang halal sedangkan sisanya haram. Bagaimana ini bisa terjadi ?” Tanya mereka lagi.

Kemudian Sang Imam menjawab “Laki-laki itu telah meminum separuh air di wadah. Ketika mau meminum separuhnya lagi, ia mengalami mimisan sehingga darah menetes ke wadah itu bercampur dengan air. Sehingga, sisa air itu haram baginya,” jawab Imam Syafii.

Jawaban Imam Syafii itu membuat sang khalifah tersenyum seraya berkata,” Semoga Allah memperbanyak pada keluarga besarku orang sepertimu.”

Mendidik Dengan Cinta


Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar menjadi rendah diri. 
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, Ia belajar untuk menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan Ia belajar menjadi percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian Ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, Ia belajar keadilan Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, Ia belajar menyenangi dirinya Jika anak dibesarkan dengan cinta kasih sayang dan persahabatan Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Kehidupan keluarga menjadi sumber inspirasi utama proses pembelajaran seorang anak dalam menemukan,
membentuk dan mendesain kepribadian. Dinamika kehidupan keluarga akan menjadi ruh bagi terbentuknya frame of personality.

Dari keluarga inilah anak menginternalisasikan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang nantinya akan digunakan sebagai alat berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarganya. Sampai dengan titik ini dapat diambil suatu pemahaman bahwa baik buruknya kualitas kehidupan keluarga akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Anak akan belajar dari apa yang Ia dengar, apa yang Ia lihat dan apa yang Ia rasakan dalam keluarganya, untuk selanjutnya Ia internalisasikan dan implementasikan dalam perilaku kesehariannya.

Dengan kata lain Bila Ia mendengar hal-hal yang Indah dari keluarganya, Ia pun akan berperilaku elok, santun dan lembut. Sebaliknya jika yang Ia dengar dan Ia lihat adalah kekerasan maka anak pun akan memperlihatkan kekerasan, agresifitas dan perilaku-perilaku negative lainnya.

Dengan Cinta Kita Bicara.
Cinta adalah bahasa yang paling universal dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Sebab cinta merupakan amunisi jiwa yang sangat dahsyat yang mampu mengalahkan kedahsyatan topan tornado maupun ganasnya luapan lahar gunung merapi. Atas nama cinta, banyak orang (ibu) yang rela berkorban demi kemuliaan hidup anak-anaknya. 

Apakah Cinta ? 

Dalam perspektif psikologi, cinta diidentifikasikan sebagai energi kehidupan positif yang bersifat afektif (emosi) . Energi cinta akan membawa seseorang pada perilaku yang positip, karena dalam cinta tersebut terkandung unsur-unsur positip seperti keikhlasan, kesabaran, kasih sayang, ketabahan, kejujuran, kepercayaan dan kesunguhsungguhan. Ketika energi cinta ini diimplemetasikan dalam mendidik anak-anak, maka orang tua harus berlaku ikhlas (lahir dan bathin), sabar dan penuh kasih sayang. Kasih sayang dalam kontek ini tidak berarti harus selalu memberi atau
menuruti semua kehendak anak, tetapi mempertegas sikap untuk memberi pelajaran pada anak bahwa tidak setiap keinginan atau kehendak itu harus terpenuhi. Ketegasan tidak sama dengan kekerasan !! Dunia anak-anak jauh sangat berbeda dengan dunianya orang tua/dewasa. 

Banyak hal yang berbeda bahkan bertolak belakang diantara keduanya. Kenyataan ini sering membuat orang tua tidak sabar dan tidak tabah dalam mengsuh/mendidik putra-putrinya. Ketidaksabaran dan ketidaktabahan ini menimbulkan konflik yang sering memicu timbulnya kemarahan, sehingga cinta yang semestinya menjadi energi positif berubah menjadi energi destruktif yang merusak sendi-sendi harmoni cinta antara orang tua dan anak-anaknya

Oleh karena itu memelihara cinta sebagai amunisi jiwa adalah merupakan kata kunci untuk membangun kejujuran, kepercayaan dan kesungguhan dalam “gerakan” mendidik dan mengasuh anak-anak tercinta. 

Bagaimana Memelihara Cinta ?

Sebagaimana sebuah tanaman, Cinta juga memerlukan pemeliharan yang baik agar tumbuh subur, berbunga indah dan berbuah lebat. Tanaman perlu dipupuk dengan pupuk organic untuk menjaga kesuburannya, maka cinta juga perlu disuburkan dengan pupuk-pupuk rohaniah. Diantara pupuk yang paling mujarap untuk menjaga kesuburan cinta adalah menumbuhkan rasa saling mengerti. Orang tua harus mencoba belajar memahami dunia anak-anak. 

Anak-anak bukan merupakan manusia dewasa dalam bentuk mini. Artinya jangan memeperlakukan anak-anak seperti kita memeperlakukan orang dewasa. Anak mempunyai dunianya yang khas, yang sangat berbeda dengan dunia kita. Dunia anak-anak adalah berekplorasi, berekperimen mencari tahu dan menemukan sesuatu yang sesuai dengan frame of reference mereka yang masih sangat simple. Bermain bagi seorang anak adalah aktivitas pencarian untuk menemukan apa yang sedang ia cari. Sedangkan bermain bagi orang dewasa adalah
refressing untuk menyegarkan jiwa raga setelah bergelut dengan padatnya pekerjaan. Dunia orang dewasa adalah dunia bekerja, dunia tanggung jawab yang menuntut kerja keras dan nilai-nilai pertanggungjawaban. Dimana semua itu akan bermuara pada terbentuknya rasa ukhuwah atau persaudaraan yang lebih kuat dan lebih baik. Persaudaraan yang kokoh adalah muara akhir dari energi cinta. Kesuburan cinta harus pula ditingkatkan dengan doa. Ketulusan dan keikhlasan doa merupakan jembatan bagi manusia untuk membentuk kehidupan jiwa yang khusuk, jiwa yang tawadu, konaah dan istiqomah , dimana semua itu akan menuntun terwujutnya perilaku yang halus sebagai wujut kematangan jiwa. Doa adalah intinya ibadah, di dalam doa termuat muatan cinta yang tidak terbatas. Maka berdoalah anda maka anda akan menjadi orang kaya dengan cinta. Doa akan menuntun manusia untuk mengakui bahwa dirinya adalah doif, lemah dan penuh ketidakberdayaan. Ketidak berdayaan inilah yang mendorong manusia untuk bersama membangun kekuatan yang namanya Cinta

Antara Ketegasan dan Kekerasan

Tidak ada satupun alasan pembenar yang dapat membenarkan tindak kekerasan pada anak untuk sebuah metode pendidikan. Kekerasan akan meninggalkan dendam dan kebencian. Yang dianjurkan adalah menggunakan pendekatan ketegasan. 

Tegas berarti aseritif, yaitu membiasakan disiplin untuk melatih bertanggungjawab. Ketegasan memang sering berimplikasi pada suatu suasana yang tidak menyenangkan bagi anak-anak. Namun selama ketegasan itu kita komunikasikan secara terbuka (tidak didasari oleh ego kekuasaan sebagai orang tua), maka lambat laun anak akan mengerti mengapa saya “dipaksa” bigini atau begitu” oleh ayah/ibu saya. 

Oleh karena itu konsep ketegasan ini harus selalu diiringi dengan pemberlakuan prinsip reward and punishment. Dengan demikian ketegasan tidak meninggalkan jejak dendam dan kebencian, sebaliknya meninggalkan kesan tentang perlunya tanggungjawab dan kedisiplinan. Cinta memang butuh ketegasan. Love your child forever, so they make be you understanding. Love is miracle !! Love is power and love is future !

Detik-detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW



Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu.


Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.

 “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.

“Siapakah itu wahai anakku?”

“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.

Fatimah menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya
.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.

Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril meyakinkan.

Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.

Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.

“Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.


“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus berpaling.

Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku,” pinta Rasul pada Allah
.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya
.
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Bapak Ilmu Bedah Modern Ternyata Seorang Muslim



Dalam dunia kedokteran, seringkali kita mendengar istilah ‘jahitan’ untuk menutup luka yang menganga. Penjahitan yang dalam bahasa kedokteran disebut hecting, biasanya dilakukan pada kulit atau jaringan tubuh lain yang robek. Untuk melakukan tindakan hecting diperlukan dua alat, yaitu jarum dan benang yang dikenal dengan istilah catgut. 

Catgut dibuat dari jaringan hewan. Biasanya dari usus sapi atau kambing. Mengapa dipilih dua hewan tersebut? Tak lain karena zat dari dua hewan inilah yang dapat diterima oleh tubuh manusia ketika benang (catgut) tersebut menyatu dengan kulit. Dan yang paling penting adalah karena dua hewan tadi halal digunakan menurut hukum islam.

Faktor kehalalan ini sangat diperhitungkan karena penemu metode hecting dengan zat catgut adalah seorang muslim.

Adalah seorang ilmuwan muslim, Abu Al Qasim Khalaf Ibn Al Abbas Al Zahrawi yang pertama kali menemukan catgut dan metode hecting pada abad ke-10.
Dunia pun mencatat kontribusi Abu Al Qasim ini. Sebuah buku yang ditulis oleh Ingrid Hehmeyer dan Aliya Khan, diterbitkan oleh Canadian Medical Association Journal (2007) berjudul Islam’ Forgotten Contributions to Medical Science (Kontribusi Islam yang Terlupakan dalam Ilmu Pengetahuan Medis), mengutip bahwa Abu Al Qasim adalah orang yang pertama yang menggunakan catgut sebagai bahan untuk melakukan hecting.
Metode ini ia temukan saat ia menjabat sebagai anggota Dewan Dokter Raja Al Hakam II masa kekhalifahan Umayyah di Andalusia (Spanyol sekarang). Penemuan tersebut merupakan sumbangan terbesar untuk dunia kedokteran dalam melakukan pembedahan. Betapa tidak, sebelum metode hecting ini ditemukan, pembedahan pada luka pasien dilakukan dengan cara membakar kulit atau jaringan yang terbuka. Istilah medisnya cauterization. Tindakan ini efektif menutup luka tapi sangat menyakitkan dan mempunyai efek jangka panjang yang buruk.

Peran Abu Al Qasim ini mengembangkan dunia medis terus berlanjut. Ia tak hanya menemukan metode (hecting) dan penggunaan catgut. Tokoh yang juga ahli kebidanan ini menemukan foreceps. Forcep adalah sebuah pisau bedah yang dipakai untuk mengeluarkan fetus (janin yang mati dalam kandungan). Abu Al Qasim juga dikenal sebagai orang pertama yang mengenali penyakit kelainan darah (hemophilia). Yang menakjubkan, ia juga membuat beragam obat untuk keperluan setelah operasi. Bahkan dalam hal menyiapkan gigi palsu dan memasangnya pun dapat ia lakukan.

Masih banyak kontribusi Abu Al Qasim dalam dunia medis yang dijadikan rujukan sampai sekarang. Semua rangkuman pengetahuannya tentang medis tercantum dalam bukunya yang berjudul Al-Tasrif (Metode Pengobatan). Di dalamnya ia mengemukakan banyak hal berkaitan dengan pengobatan, bahkan ia juga mengenalkan lebih dari 200 peralatan bedah yang sangat berguna untuk keperluan operasi. Al-Tasrif telah beberapa kali diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi rujukan utama sekolah-sekolah kedokteran Eropa selama lima abad. Satu nama yang pernah menerjemahkan Al-Tasrif adalah Gerard of Cremonia. Ia menerjemahkan Al-Tasrif dalam bahasa latin pada abad ke-12.

Karena kontribusinya inilah Abu Al Qasim, dalam sebuah literature medis berjudul Neuroscience in Al-Andalus and its influence on Medieval Scholastic Medicine ( Neuroscience di Andalusia dan pengaruhnya pada pendidikan medis abad pertengahan –red) yang diterbitkan tahun 2002, karya empat orang ilmuwan Spanyol yaitu A. Martin-Araguz, C.Bustamante-Martinez, Ajo. V. Fernandes-Armayor, J.M. Moreno Martinez, menobatkan Abu Al Qasim sebagai bapak ilmu bedah modern. Subhanallah

Lima Hal Yang Diingat Umar Bin Khatab r.a atas Kecerewetan Sang Istri



                        
Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khatab r.a. Ia ingin mengadu pada Khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. 

Dari dalam rumah terdengar istri Khalifah Umar bin Khatab r.a sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Khalifah Umar bin Khatab r.a yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?
Umar berdiam diri karena ingat 5 hal.

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya.
Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari.
Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liukan yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja dan berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.
Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaiannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku, ?akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Khalifah Umar bin Khatab r.a paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi dan lalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.
Dengan mengingat lima peran ini, Khalifah Umar bin Khatab r.a kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Khalifah Umar bin Khatab r.a ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya

Kunci Surga



Ibarat sebuah pintu, surga membutuhkan sebuah kunci untuk membuka pintu-pintunya.
Namun, tahukah Anda apa kunci surga itu?
Bagi yang merindukan surga,
tentu akan berusaha mencari kuncinya walaupun harus mengorbankan nyawa.

Tetapi anda tak perlu gelisah, Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam
telah menunjukkan pada umatnya apa kunci surga itu,
sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang mulia,
beliau bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh
dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga."
(HR. Imam Ahmad dengan sanad yang shohih)

Ternyata, kunci surga itu adalah Laa Ilaahaa Illalloh, 
 kalimat Tauhid yang begitu sering kita ucapkan.
Namun semudah itukah pintu surga kita buka?
Bukankah banyak orang yang siang malam
mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh
tetapi mereka masih meminta-minta (berdo’a dan beribadah) kepada selain Alloh,
percaya kepada dukun-dukun dan melakukan perbuatan syirik lainnya?
Akankah mereka ini juga bisa membuka pintu surga? Tidak mungkin!

Dan ketahuilah, yang namanya kunci pasti bergerigi.
Begitu pula kunci surga yang berupa Laa Ilaaha Illalloh itu,
ia pun memiliki gerigi. Jadi,
pintu surga itu hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki kunci yang bergerigi.

Al-Iman Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya (3/109),
bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al-Imam Wahab bin Munabbih
(seorang Tabi’in terpercaya dari Shon’a yang hidup pada tahun 34-110 H):
“Bukankah Laa Ilaaha Illalloh itu kunci surga?
“Wahab menjawab: “Benar, akan tetapi setiap kunci yang bergerigi.
Jika engkau membawa kunci yang bergerigi,
maka pintu surga itu akan dibukakan untukmu!”

Lalu, apa gerangan gerigi kunci itu Laa Ilaaha Illalloh itu?
Ketahuilah, gerigi kunci Laa Ilaaha Illalloh itu adalah syarat-syarat Laa Ilaaha Illalloh!
Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qoshim Al-Hambali An-Najdi rahimahullah,
penyusun kitab Hasyiyyah Tsalatsatil Ushul, pada halaman 52 kitab tersebut menyatakan,  
syarat-syarat Laa Ilaaha Illalloh itu ada delapan, yaitu:

Pertama: Al-‘Ilmu (Mengetahui),
maksudnya adalah Anda harus mengetahui arti (makna) Laa Ilaaha Illalloh secara benar.
Adapun artinya adalah, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh.”
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh, niscaya dia akan masuk surga.” (HR. Muslim).
Seandainya Anda mengucapkan kalimat tersebut tetapi anda tidak mengerti maknanya,
maka ucapan atau persaksian tersebut tidak sah dan tidak ada faedahnya.

Kedua: Al-Yaqiinu (Meyakini),
maksudnya adalah anda harus menyakini secara pasti kebenaran kalimat Laa Ilaaha Illalloh tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikitpun. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh dan aku adalah utusan Alloh. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Alloh sambil membawa dua kalimat syhadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga. (HR. Muslim)

Ketiga: Al-Qobulu (Menerima),
maksudnya Anda harus menerima segala tuntunan Laa Ilaaha Illalloh dengan senang hati, lisan dan perbuatan, tanpa menolak sedikitpun. Anda tidak boleh seperti orang-orang musyrik yang digambarkan oleh Alloh dalam Al-Qur’an (yang artinya): “Orang-orang yang musyrik itu apabila dikatakan kepada mereka, (ucapkanlah) Laa Ilaaha Illalloh, mereka menyombongkan diri seraya berkata, Apakah kita harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kita hanya karena ucapan penyair yang gila ini?" (QS. As-Shoffat: 35-36)

Keempat: Al-Inqiyaadu (Tunduk atau Patuh),
maksudnya Anda harus tunduk dan patuh melaksanakan tuntunan Laa Ilaaha Illalloh dalam amal-amal nyata. Alloh Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya): “Kembalilah ke jalan Tuhanmu dan tunduklah kepada-Nya." (QS. Az-Zumar: 54). Alloh Ta’ala juga berfirman (yang artinya): “Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul (ikatan) tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa Ilaaha Illalloh). “(QS. Luqman: 22). Makna “menyerahkan dirinya kepada Alloh” yaitu tunduk, patuh dan pasrah kepada-Nya. (ed.)

Kelima: Ash-Shidqu (Jujur atau Benar),
maksudnya Anda harus jujur dalam melaksanakan tuntutan Laa Ilaaha Illalloh, yakni sesuai antara keyakinan hati dan amal nyata, tanpa disertai kebohongan sedikit pun. Nabi Shollallohu ‘Alahi wa Sallam bersabda (yang artinya): “Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Alloh mengharamkan neraka atasnya." (HR. Imam Bukhori dan Muslim)

Keenam: Al-Ikhlas (Ikhlas atau Murni),
maksudnya Anda harus membersihkan amalan Anda dari noda-noda riya’ (amalan ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain) dan berbagai amalan kesyirikan lainnya. Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Alloh 'Azza wa Jalla.“ (HR. Imam Bukhori dan Muslim)

Ketujuh: Al-Mahabbah (Mencintai),
maksudnya anda harus mencintai kalimat Tauhid, tuntunannya dan mencintai juga kepada orang-orang yang bertauhid dengan sepenuh hati, serta membenci segala perkara yang merusak Tauhid itu. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan di antara manusia ada yang membuat tandingan-tandingan (sekutu) selain Alloh yang dicintai layaknya mencintai Alloh. Sedangkan orang-orang yang beriman, sangat mencintai Alloh diatas segala-galanya." (QS. Al-Baqarah: 165). Dari sini kita tahu, Ahlut Tauhid mencintai Alloh dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan Ahlus Syirik mencintai Alloh dan mencintai Tuhan-Tuhan yang lainnya. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan isi kandungan Laa Ilaaha Illalloh. (ed.)

Kedelapan: Al-Kufru Bimaa Siwaahu (Mengingkari Sesembahan yang Lainnya),
maksudnya Anda harus mengingkari segala sesembahan selain Alloh, yakni tidak mempercayainya dan tidak menyembahnya dan juga Anda harus yakin bahwa seluruh sesembahan selain Alloh itu bathil dan tidak pantas disembah-sembah. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyatakan (yang artinya): “Maka barang siapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Alloh) dan hanya beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada ikatan tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa Ilaaha Illalloh), yang tidak akan putus…”
(QS. Al-Baqoroh: 256)

Saudaraku kaum muslimin dari sini dapatlah Anda ketahui, bahwa orang yang mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh hanya dengan lisannya tanpa memenuhi syarat-syaratnya, dia bagaikan orang yang memegang kunci tak bergerigi, sehingga mustahil baginya untuk membuka pintu surga, walaupun dia mengucapkannya lebih dari sejuta banyaknya. Karena itu perhatikanlah! Wallahu a’lam bish showab.

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua


  Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Wahai saudaraku muslim dan muslimah, jika kamu ingin berhasil di dunia dan akhirat maka kerjakanlah beberapa pesan sebagai berikut:

1. Berbicaralah kepada kedua orang tuamu dengan sopan santun, jangan mengucakan “ah” kepada mereka, jangan hardik mereka dan berkatalah kepada mereka dengan ucapan yang baik.

2. Taati selalu kedua orang tuamu selama tidak dalam maksiat karena tidak ada ketaatan pada makhluk yang bermaksiat kepada Allah.

3. Berlemah lembutlah kepada kedua orang tuamu, jangan bermuka masam di depannya dan janganlah memelototi mereka dengan marah.

4. Jaga nama baik, kehormatan dan harta benda kedua orang tua. Dan janganlah mengambil sesuatu pun tanpa seizin keduanya.

5. Lakukanlah hal-hal yang meringankan keduanya meski tanpa perintah seperti berkhidmat, membelikan beberapa keperluan dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu.

6. Musyawarahkan segala pekerjaanmu dengan orang tua dan mintalah maaf kepada mereka jika terpaksa kamu berselisih pendapat.

7. Segera penuhi panggilan mereka dengan wajah yang tersenyum sambil berkata: Ada apa, Bu! Atau: Ada apa, Pak!

8. Hormati kawan dan sanak kerabat mereka ketika mereka masih hidup dan sesudah mati.

9. Jangan bantah mereka dan jangan persalahkan mereka tapi usahakan dengan sopan kamu dapat menjelaskan yang benar.

10. Jangan kau bantah perintah mereka, jangan kamu keraskan suaramu atas mereka, dengarkanlah pembicaraannya, bersopan santunlah terhadap mereka dan jangan ganggu saudaramu untuk menghormati kedua orang tuamu.

11. Bangunlah jika kedua orang tuamu masuk ke tempatmu dan ciumlah kepala mereka.

12. Bantulah ibumu di rumah dan jangan terlambat membantu ayahmu di dalam pekerjaannya.

13. Jangan pergi jika mereka belum memberi izin meski untuk urusan penting, jika terpaksa harus pergi maka mintalah maaf kepada keduanya dan jangan sampai memutuskan surat menyurat dengannya.

14. jangan masuk ke tempat mereka kecuali setelah memdapat izin terutama pada waktu tidur dan istirahat mereka.

15. Jangan makan sebelum mereka dan hormatilah mereka dalam makanan dan minuman.

16. Jangan berbohong dengan mereka dan jangan cela mereka jika mereka berbuat yang tidak menarik anda.

17. Jangan utamakan isterimu atau anakmu atas mereka. Mintalah restu dan ridho dari mereka sebelum melakukan segala sesuatu karena ridho Allah terletak pada ridha kedua orang tua dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan mereka.

18. Jangan duduk di tempat yang lebih tinggi dari mereka dan jangan menselonjorkan kedua kakimu dengan congkak di depan mereka.

19. Jangan congkak terhadap nasib ayahmu meski engkau seorang pegawai besar dan usahakan tidak pernah mengingkari kebaikan mereka atau menyakiti mereka meski hanya dengan satu kata.

20. Jangan kikir untuk menginfakkan harta kepada mereka sampai mereka mengadu padamu dan itu merupakan kehinaan bagimu dan itu akan kamu dapatkan balasannya dari anak-anakmu. Apa yang kamu perbuat akan mendapat balasan.

21. Perbanyak melakukan kunjungan kepada kedua orang tua dan memberi hadiah, sampaikan terima kasih atas pendidikan dan jerih payah keduanya dan ambillah pelajaran dari anak-anakmu yaitu merasakan beratnya mendidik mereka.

22. Orang yang paling berhak mendapat penghormatan adalah ibumu, kemudian ayahmu. Ketahuilah bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu.

23. Usahakan untuk tidak menyakiti kedua orang tua dan menjadikan mereka marah sehingga kamu merana di dunia dan akhirat dan anak-anakmu akan memperlakukan kamu sebagaimana kamu memperlakukan kedua orang tuamu.

24. Jika meminta sesuatu dari kedua orang tuamu maka berlemah-lembutlah, berterima kasihlah atas pemberian mereka dan maafkan jika menolak permintaanmu serta jangan trelalu banyak meminta agar tidak mengganggu mereka.

25. Jika kamu sudah mempu mencari rizki maka bekerjalah dan bantulah kedua orang tuamu.

26. Kedua orang tuamu mempunyai hak atas kamu dan isterimu mempunyai hak atas kamu maka berilah hak mereka. Jika keduanya berselisih usahakan kamu pertemukan dan berilah masing-masing hadiah secara diam-diam.

27. Jika kedua orang tuamu bertengkar dengan isterimu maka bertindaklah bijaksana dan beri pengertian kepada isterimu bahwa kamu berpihak padanya jika ia benar, hanya kamu terpaksa harus merupakan penolong yang paling baik.

28. Jika kamu berselisih dengan kedua orang tua tentang perkawinan dan talak maka kembalikan pada hukum Islam karena hal itu merupakan penolong yang paling baik.

29. Do’a orang tua untuk kebaikan dan kejelekan diterima Allah maka hati-hatilah terhadap do’a dari kejelekan mereka .

30. Bersopan santunlah dengan orang, karena barangsiapa mencela orang tua seseorang maka orang tadi akan mencaci orang tuanya. Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

من الكبائر شتم الرجل والديه يسب أبا الرجل فيسب أباه ويسب أمه فيسب أمه.

“Diantara dosa-dosa besar adalah cacian seseorang terhadap kedua orang tuanya; mencaci ayah orang maka ia mencaci ayahnya sendiri, mencaci lbu orang maka ia mencaci ibunya sendiri.”

31. Kunjungilah kedua orang tuamu ketika masih hidup dan sesudah matinya, bersedekahlah atas nama mereka dan perbanyaklah do’a untuknya sambil berkata:

رب اغفر لي ولوالدي رب ارحمهما كما ربياني صغيرا.


Oleh: Syekh Mohammad Bin Jamel Zeeno.
BUKU BIMBINGAN ISLAM Untuk Pribadi Dan Masyarakat

Sinetron: Yang Dibenci, Yang Dinanti




Hari gini yang punya TV pasti nggak asing sama tontonan yang namanya sinetron. Sinema elektronik atawa sinetron –istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Bapak Soemardjono, salah satu pendiri Institut Kesenian Jakarta (IKJ)-udah jadi menu sehari-hari yang buat sebagian orang kudu dinikmati. Mau yang sinetron sekali tayang habis ala FTV atau yang stripping beratus episode ala Cinta Fitri ada penggemarnya sendiri. Atau sinetron yang diimpor dari luar Indonesia kayak telenovela yang asalnya dari Amerika Latin atau soap opera alias opera sabun yang lahir pertama kali di Amerika, plus drama seri Asia yang diisi akting para artis Korea, Taiwan, dan Jepang, semua makin bikin warna sinetron di Indonesia beragam, banyak pilihan.

Banyak yang suka sama sinetron karena cerita sinetron yang bikin orang penasaran. Tiap episode berakhir dengan cerita yang dibuat ngegantung, bikin orang geregetan dan “nagih” untuk besok nonton lagi. Plus juga pemain-pemainnya yang cantik-cantik en ganteng bikin tangan makin nggak sanggup pencet remote pindah channel.
Tapi ternyata nggak semua masyarakat merespon keberadaan sinetron ini dengan suka. Ada juga sebagian masyarakat yang memilih untuk nggak nonton sinetron apalagi yang produk dalam negeri. Bahkan ada yang sampai bikin gerakan “Anti Sinetron”!

Kalau dicek n crosscek ketidaksukaan sebagian masyarakat terhadap sinetron wajar-wajar aja. Karena produk sinetron yang ada kebanyakan emang nggak bikin orang tambah pinter ngeliat hidupnya dan hidup orang lain. Nggak tambah bijak dan lihai untuk bisa ngejadiin diri cari solusi untuk permasalahan hidup yang sedang dihadapi.
Loh kan sinetron emang bukan media pendidikan kan? Sinetron kan emang peruntukkannya cuma untuk menghibur. Gitu sih ngelesnya. Iya sih. Sinetron emang dibikin untuk menghibur, tapi kan bukan berarti melupakan unsur pendidikan. Contohnya –ini contoh yang sering banget dipake, karena selain yang ini nggak ada lagi yang lain hehe..- sinetron Kiamat Sudah Dekat, Lorong Waktu, atau Para Pencari Tuhan. Lewat sinetron-sinetron tersebut banyak cerita keseharian ditampilkan plus bagaimana contoh penyelesaiannya sesuai dengan syariat Islam. Orang nggak ngerasa diguruin, nggak ngerasa diceramahin, tapi bisa dengan baik bercermin.

Sayangnya nggak banyak sinetron yang semacam itu. Ada juga sih sinetron yang mencoba tampil islami, apalagi seperti pada Ramadhan kemarin. Tapi karena global idenya masih yang kebanyakan: perseteruan karena warisan, harta, perempuan, dan mistis hantu-hantuan, walhasil nama Allah, ayat-ayat Allah yang digunakan di tiap adegan jadi tampak garing. Nggak ada “ruh” yang ditampilkan, bahkan bertentangan dengan syariat Islam.

Sinetron dihujat, rating tetap nanjak?

Nah, ini fenomena lain dari sinetron di tanah air. Banyak kejadian sinetron yang isinya dinilai banyak pihak nggak mutu tapi ratingnya tinggi. Kesimpulannya, tontonan yang nggak mutu juga banyak penontonnya. Berarti penontonnya juga banyak yang nggak mutu dong. Bisa jadi. Bener nggak tuh? Harusnya bener kan? Glodak!
Tapi, ada temuan nih yang bilang kalo rating bisa juga direkayasa. Rating yang jadi “tuhan” di jagad sinetron ternyata nggak melulu presentasi dari pilihan penonton. Apalagi mengingat lembaga perating tayangan televisi di Indonesia itu hanya diisi oleh AC-Nielsen yang asal Amerika. Posisi monopoli bisa memungkinkan segala praktek di luar kelaziman karena nggak ada yang bisa kontrol.
Jadi nggak seutuhnya bener kalo sinetron booming karena mengikuti keinginan pasar, keinginan masyarakat. Jangan-jangan masyarakat lah yang dikondisikan untuk mau nerima sinetron dengan segala jenisnya itu. Sama seperti dulu masyarakat yang semula nggak peduli sama urusan gosip via layar kaca, sekarang malah ketagihan infotaintment.
Nah lho! Kok bisa? Coba deh kita sama-sama teliti tulisan Steven Sterk yang merupakan nama samaran dari karyawan yang sudah bekerja 6 tahun di AC Nielsen. Teliti sebelum menyimpulkan, dan teliti dengan menghubungkannya dengan fakta yang ada di hadapan. Siap? Oke, ini dia.
Tujuh fakta di balik AC-Nielsen:

Pertama, AC Nielsen Indonesia tidak memiliki tenaga handal profesional yang direkrut dari luar negeri demi menjaga kerahasiaan sistem mereka, seperti yang selalu diklaimnya. AC Nielsen Indonesia yang sekarang banyak ditangani oleh para pekerja Indonesia, yang sebagian besar dari mereka adalah fresh graduated (sebagian besar adalah lulusan statistik dan matematika). Sehingga kerahasiaan sistem mereka sebenarnya tidak benar-benar seperti benda suci yang selalu mereka jaga kerahasiaannya. Mereka banyak merekrut tenaga dari dalam negeri dengan anggapan bahwa tenaga dari Indonesia adalah jauh lebih murah dibanding mempekerjakan tenaga dari negara mereka yang sudah berpengalaman. Bahkan Hampir setengah dari tenaga lapangan AC Nielsen adalah para mahasiswa yang belum lulus dengan hitungan tenaga magang. Sehingga dengan tujuan efisiensi pada sumber daya manusia, mereka bisa lebih banyak mendapat keuntungan.

Kedua, dengan banyak merekrut tenaga kerja baru lulus kuliah dan mahasiswa magang, AC Nielsen banyak memberikan toleransi kesalahan data. Terutama data-data yang ada di lapangan. Sering sekali saya alami penyimpangan data terjadi hanya karena keteledoran SDM semata-mata.

Ketiga, untuk pemilihan demografis responden rating televisi cenderung dilakukan dengan asal-asalan. Dan tidak diusahakan pemerataan pada sebaran datanya. Misalnya, untuk mengetahui berapa kecendrungan pemirsa untuk tayangan televisi A, mesti diambil jumlah responden yang seimbang misalnya untuk kelas ekonomi atas 33,3%, kelas ekonomi menengah 33,3 %, untuk kelas ekonomi bawah 33,3%, sehingga total 100%. Dengan model seperti ini, diharapkan angka rating yg didapat adalah lebih obyektif. Namun pada prakteknya, AC Nielsen Indonesia banyak mengambil data responden sebagian besar dari kelas ekonomi rendah. Profil mereka sebagian besar adalah: ekonomi kelas rendah, berpendidikan rendah, tidak mempunyai pekerjaan, bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima, karyawan toko, buruh pabrik, dan lain-lain. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian besar tayangan televisi nasional yang memiliki rating tinggi justru yang memiliki cita rasa rendah dan apresiasi seni yang rendah. Seperti tayangan gosip artis, tayangan mistik, film-film hantu, dan sinetron-sinetron picisan.
Tayangan-tayangan televisi yang justru bersifat mendidik dan mencerdaskan akan selalu mendapat nilai rating yang rendah dari AC Nielsen. Kebijakan ini diambil AC Nielsen karena ia tidak mau membayar uang imbalan untuk respondennya. Sehingga responden yang diambil adalah kebanyakan dari kaum ekonomi bawah agar bisa dibayar murah.

Keempat,untuk pemilihan responden secara geografis juga dilakukan dengan tidak merata. Sebaran data yang diambilnya tidak pernah dilakukan dengan distribusi yang sama rata secara nasional, melainkan sekitar lebih dari 60% datanya hanya terkumpul dari Jakarta saja.

Kelima, sebagai imbalan (honor), responden rating hanya mendapat souvernir senilai Rp 30,000 s/d Rp 50,000,-saja per bulannya. Sehingga responden cenderung ogah-ogahan untuk menjaga integritasnya.

Keenam, idealnya sebuah keluarga atau sebuah rumah yang menjadi responden televisi menjadi reponden selama 6 bulan saja atau maksimal selama 1 tahun. Setelah itu AC Nielsen harus mencari responden baru. Secara statistik hal itu perlu dilakukan demi menjaga obyektivitas data. Agar secara psikologis, mood responden tidak mempengaruhi data selanjutnya. Namun pada kenyataannya, seorang responden kebanyakan bisa menjadi responden selama 7 TAHUN LEBIH. Untuk hal ini adalah murni dikarenakan kemalasan dari manajemen AC Nielsen untuk melakukan pemeriksaan ke lapangan.

Ketujuh, para responden rating AC Nielsen sama sekali tidak mempunyai integritas. Dengan demikian, beberapa oknum televisi beserta oknum AC Nielsen dapat memberikan “pesanan” kepada ratusan responden sekaligus agar “memanteng” program televisi tertentu, agar hitungan rating program tersebut menjadi tinggi. Biasanya jumlah yang diajak adalah sekitar 100 s/d 700 orang dari total 3,500 responden. dengan 700 orang berarti program tersebut diharapkan sudah memegang rating 1/5 dari total rating. Biasanya tiap satu kali “memanteng” (demikian sebutannya) tiap responden meminta bayaran Rp 100,000,-. Sehingga dengan 700 orang x Rp 100,000,-, oknum pihak televisi tersebut hanya mengeluarkan uang Rp 70,000,000 saja per satu kali “manteng”. Dengan begitu angka rating dapat dimanipulasi dengan mengeluarkan biaya yang relatif murah sebenarnya bagi para stasiun televisi.

Bro en Sis, saya dapetin data ini dari sebuah blog. Silakan cek di: (http://illegalblogging.wordpress.com/2009/06/05/%E2%96%A0-kenapa-sinetron-picisan-bisa-masuk-prime-time-rating-palsu-ac-nielsen/)

Nah gimana menurut kamu setelah meneliti tulisan Steven Sterk di atas? Nyium-nyium bau nggak sedap “rekayasa” atau “konspirasi” kah? Hehehe … lebay ya pake bawa-bawa istilah konspirasi? Apapun istilahnya, fakta di lapang sinetron yang isinya nggak jelas tapi ratingnya teratas emang nggak jauh dari apa yang dibeberkan oleh Steven. Penyebabnya? Ya karena “ada main mata” antara pihak TV atau PH dengan AC Nielsen. Rahasia umum yang masih dianggap tabu oleh sebagian orang untuk dibilang bukan rahasia lagi.

Behind the scene

Sinetron bisa ada di layar kaca pastinya dengan proses. Proses berlapis yang melibatkan banyak pihak. Kalau bicara soal konten cerita ada tiga pihak yang punya peran penting yaitu produser, sutradara, dan penulis skenario, selain TV sebagai fasilitator.

Produser punya wewenang yang sangat besar untuk nentuin mana cerita yang lolos, mana yang harus direvisi dulu, mana yang harus langsung masuk tong sampah. Penulis skenario jarang banget punya bargaining position untuk menyampaikan argumentasi. Ya iyalah, karena produserlah yang punya fulus. Apalagi TV kadang punya permintaan-permintaan khusus ke PH (produser) demi upaya penyelamatan rating. Ceritanya harus ditambah porsi Si Tokoh X, dikurangin di bagian ini, yang bagian itu dihilangin aja. Begini-begitu. Begitu-begini. Jadi, nggak ada tayangan sinetron yang asli 100% eksekusi ide dari penulis.

Makanya jadi berat untuk para penulis idealis untuk bisa tetap mempertahan idealismenya, yang nggak pengen keyboard-nya dinodai pembodohan masyarakat. Semua akhirnya runtuh di hadapan kapital alias uang. Hidup kan butuh duit. Keluarga mau dikasih makan apa kalau nggak ada job nulis. Muncul dilema.
Kalau yang masih bertahan, pilihannya cuma dua. Mereka harus berusaha lebih keras lagi, doa lebih khusyuk lagi untuk bisa nyantol sama produser dan sutradara yang punya visi dan misi idealisme yang sama, dan itu jaraaa…ng banget. Atau banting stir nulis yang lain yang dinilai itu bisa menyelamatkan misinya. Ya gitulah kapitalisme bikin keinginan hidup yang lempeng jadi susah banget.

Semua kudu bertanggung jawab

Masalah mutu tayangan TV di Indonesia termasuk sinetron nggak cuma jadi tanggung jawab satu pihak. Pemerintah, pengusaha televisi, PH, juga masyarakat penonton punya porsi tanggung jawab masing-masing.
Bagi pengusaha televisi dan PH udah saatnya menginvestasikan modal yang dimiliki untuk ikut mencerdaskan bangsa. Cerdas yang nggak hanya ukuran duniawi, materi, tapi juga ukhrowi. Cerdas menjalani hidup sebagai makhluk Allah Swt.: mampu mengurai permasalahan hidup menggunakan penuntun yang sudah dianugerahkan Allah yaitu al-Quran dan as-Sunnah dan mampu menghadirkan solusi itu buat orang lain juga.

Bagi masyarakat penonton, punya tanggung jawab untuk saling mengingatkan demi saling meningkatkan kualitas diri. Kualitas sejati sebagai hamba Allah yang peduli, bervisi kebangkitan dan bermisi perjuangan bersandar keimanan, seperti yang selama ini diupayakan oleh buletin kesayangan kamu, gaulislam ini.
Tanggung jawab terbesar ada pada pemerintah sebagai pihak yang diamanahi untuk mengayomi dan membina masyarakat. Sabda Rasulullah saw: “Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad)

Sudah saatnya para pemimpin negeri ini mengambil standar yang mapan yang benar-salah, hitam-putihnya jelas dan terang yaitu syariat Islam. Sehingga tayangan pun bisa disensor atau dinilai dengan benar-salah yang juga terang. Menutup kemungkinan tumpulnya gunting sensor. Karena yang jadi korban nantinya juga anak bangsa sendiri. Jika anak bangsa rusak, negeri ini pun akan terpuruk. Dan, pastinya bukan itu yang kita semua mau




BRING BACK ISLAM

BRING BACK THE STATE
When I said no more wait
I meant..
NO MORE WAIT!!!!!!
No more watching brothers die
No more watching sisters cry
OH MUSLIM UMMAH RISE!!
Rise up from these lies
Rise up from nationalism pride
Allah is on our side
WE WILL NEVER COMPROMISE
MUSLIM FOR LIFE!
MUSLIMS UNITE!

Billion and a half Muslims
They can’t make us or break us
Don’t judge us aside
By our faces and places

COLOR BLIND…!!!

No spaces for racist
Travelers in this life
Your lies can never fool us

Islam is the ONLY solution

To the problems that face us
WE WON’T COMPROMISE ISLAM!!
These kafirs can never take us
When they drop bombs
On our brothers…It hits us
We don’t mix action with our prayer
Oh Allah……forgive us!
Let us RISE up for Islam
Like we RISE UP for fajr at dawn
Uniting under one flag,
Using Islam as our only bond
Its time to take a STAND!
Follow ONLY Allah’s Commands!
Put Khilafah back on the MAP
ITS TIME TO BRING ISLAM BACK

Di Atas Luka Masih Ada Cinta




Mungkin hanya kebodohan 
atau kah sebuah ketulusan  yg salah
ketika semua yg di perbuatnya tetap saja terasa indah
walau pun terkadang tak dapat di pungkiri
bahwa semua yg di lakukannya sangat lah menyayat hati

Mestinya aku sadari
bahwa untuk memulai sesuatu itu harus di awali dengan kebaikkan
hingga tak kan menjadi hal yg menyakitkan di akhir ceritanya nanti
tapi memang ini lah sifat dari kemanusiaan ku
dan juga ketidak sempurnaan ku
Yg tersimpan khilaf dalam tingkah laku
Semoga Allah bisa memaafkan kesalahanku

Sebenarnya aku pun takkan ingin melakukan itu
Tapi apalah daya ku
Rasa cinta, telah membutakan hati ku
yg terlalu menyayangi mu
hingga tak menggunakan lagi akal sehat ku
tapi di balik semua itu
apa yg ku berikan padamu, adalah tulus adanya
dan aku yakin Allah  pun tahu akan hal itu

Walaupun pada akhirnya Allah harus mengambilmu dari hidup ku
di saat aku masih sangat menyayangimu
tapi setidaknya apa yg Allah lakukan telah menyadarkan ku
bahwa tak sepantasnya aku mencintai mu
melebihi rasa cinta ku padaNya ..
dan juga tak sepantasnya aku membohongimu
hanya karena keegoisan ku
yg terlalu menginginkanmu

Tapi yg pasti cinta tak pernah salah
karena jika cinta ini memang salah
sudah tentu Allah takkan memberikannya rasa indah
di saat aku masih bisa bersamamu
ataupun di saat aku telah kehilanganmu

Aku hanya bisa berdo’a dan berharap
semoga Allah memberikan ku, kesempatan kedua
untuk memulai semuanya dari awal lagi
dan dapat ku pastikan, tak kan ku ulangi lagi semua kesalahan
yg di awali ketidak baikkan dalam menjalankan suatu hubungan

Tapi apakah kesadaran ku ini telah terlambat
dan juga harus di bayar dengan harga yg mahal
kau yg aku sayangi, tapi kau pula lah
yg paling menyakitiku begitu dalam
namun yg pasti aku akan selalu menyayangimu
walaupun kau tak lagi menginginkanku
di dalam riwayat hidupmu
tapi aku takkan lagi perduli, meski kau selalu menyakiti
karena aku  masih punya mimpi
di suatu saat nanti kau pasti akan kembali
dan dapat mengerti
bahwa semua yg aku lakukan
semuanya atas rasa sayang dan juga ketulusan
dan takkan lagi aku hiraukan semua tingkahmu
yg terus saja menyakiti ku
karena ku tahu bukan itu sifat aslimu
dan andai kau tahu 
di atas luka ku masih ada cinta untuk mu


Di Atas Luka Masih Ada Cinta



Mungkin hanya kebodohan 
atau kah sebuah ketulusan  yg salah
ketika semua yg di perbuatnya tetap saja terasa indah
walau pun terkadang tak dapat di pungkiri
bahwa semua yg di lakukannya sangat lah menyayat hati

Mestinya aku sadari
bahwa untuk memulai sesuatu itu harus di awali dengan kebaikkan
hingga tak kan menjadi hal yg menyakitkan di akhir ceritanya nanti
tapi memang ini lah sifat dari kemanusiaan ku
dan juga ketidak sempurnaan ku
Yg tersimpan khilaf dalam tingkah laku
Semoga Allah bisa memaafkan kesalahanku

Sebenarnya aku pun takkan ingin melakukan itu
Tapi apalah daya ku
Rasa cinta, telah membutakan hati ku
yg terlalu menyayangi mu
hingga tak menggunakan lagi akal sehat ku
tapi di balik semua itu
apa yg ku berikan padamu, adalah tulus adanya
dan aku yakin Allah  pun tahu akan hal itu

Walaupun pada akhirnya Allah harus mengambilmu dari hidup ku
di saat aku masih sangat menyayangimu
tapi setidaknya apa yg Allah lakukan telah menyadarkan ku
bahwa tak sepantasnya aku mencintai mu
melebihi rasa cinta ku padaNya ..
dan juga tak sepantasnya aku membohongimu
hanya karena keegoisan ku
yg terlalu menginginkanmu

Tapi yg pasti cinta tak pernah salah
karena jika cinta ini memang salah
sudah tentu Allah takkan memberikannya rasa indah
di saat aku masih bisa bersamamu
ataupun di saat aku telah kehilanganmu

Aku hanya bisa berdo’a dan berharap
semoga Allah memberikan ku, kesempatan kedua
untuk memulai semuanya dari awal lagi
dan dapat ku pastikan, tak kan ku ulangi lagi semua kesalahan
yg di awali ketidak baikkan dalam menjalankan suatu hubungan

Tapi apakah kesadaran ku ini telah terlambat
dan juga harus di bayar dengan harga yg mahal
kau yg aku sayangi, tapi kau pula lah
yg paling menyakitiku begitu dalam
namun yg pasti aku akan selalu menyayangimu
walaupun kau tak lagi menginginkanku
di dalam riwayat hidupmu
tapi aku takkan lagi perduli, meski kau selalu menyakiti
karena aku  masih punya mimpi
di suatu saat nanti kau pasti akan kembali
dan dapat mengerti
bahwa semua yg aku lakukan
semuanya atas rasa sayang dan juga ketulusan
dan takkan lagi aku hiraukan semua tingkahmu
yg terus saja menyakiti ku, karena ku tahu bukan itu sifat aslimu
dan andai kau tahu 
di atas luka ku masih ada cinta untuk mu


..Untuk Yang Terkasih..( true story )


Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
...dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,........ aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,

adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,....... sekejap saja,........ lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,

aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan,.............. sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta,................ sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

Selamat Jalan,
calon bidadari surgaku


( ...Puisi Hati BJ Habibie tuk Istri Terkasih... )

pelajaran cinta dan kesetiaan dari sang mantan negarawan...

Sikap Muslim Terhadap Sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam



Sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam merupakan sumber hukum syari’at Islam yang ke dua setelah al Qur’anul Karim. Keberadaan sunnah bisa merupakan pendukung dan penguat kandungan al Qur’an. Bisa pula sebagai tafsir dan penjelasannya. Dan secara terpisah, as-Sunnah juga merupakan landasan tasyri’ (penetapan hukum) yang melahirkan berbagai hukum, serta merupakan nash (ketetapan) untuk menghalalkan ataupun untuk mengharamkan sesuatu yang tidak tercantum di dalam al Qur’an.

Namun sangat disayangkan, masih ada sebagian orang yang mengaku muslim, namun menolak sunnah secara total. “Al Qur’an telah cukup”, begitu kata mereka. Tidak diragukan lagi, anggapan dan ucapan seperti itu adalah kedustaan, bahkan dengan begitu mereka telah mendustakan al Qur’an dan sekaligus as Sunnah. Bukankah al Qur’an telah memerintahkan untuk mengambil apa saja yang datang dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan menjauhi apa yang dilarang beliau? Sebagaimana firman Allah,

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”.
(QS. 59:7)
Ada pula kelompok tertentu yang memilah-milah Sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, yakni mengambil sebagian yang cocok dengan selera dan akalnya saja. Sementara apabila akal dan seleranya tidak cocok, maka dia tolak sunnah tersebut. Sikap seperti ini telah melanda seba-gian besar kaum muslimin. Bahkan terkadang -karena saking bodohnya- ia berani menentang sunnah, bahkan menghujatnya.

Ada juga kelompok yang menerima sunnah dan tidak menolaknya. Akan tetapi, memahaminya dengan berbagai ta’wil (interpretasi) yang jauh dari kebenaran. Seperti dilakukan oleh sekelompok orang yang silau kepada budaya barat (baca: Yahudi dan Nashara). Mereka menggulirkan faham sesat lagi memurtadkan, yaitu pluralisme dan inklusifisme. Faham ini menyejajarkan Islam dengan agama-agama lain. Semuanya diyakini benar dan diridhai Allah. Mereka tidak tahu atau pura-pura lupa dengan firman Allah,“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenar-nya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. 2:120)

Sementara itu sebagian kaum muslimin juga ada yang menyikapi sunnah Nabi dengan sikap meremeh-kan. Kalau mereka diajak untuk melaksanakan sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, mereka beralasan, “Ah itu kan cuma sunnah. Padahal yang dimaksud sunnah di sini adalah hadits, perilaku dan jalan hidup Nabi Shalallaahu alaihi wasalam di dalam ber-Islam, yang boleh jadi itu adalah wajib diyakini dan wajib dilakukan, seperti shalat fardhu berjama’ah, berumah tangga sesuai tuntunan Islam, menjawab salam dan sebagainya. Orang seperti ini, telah salah persepesi, yakni beranggapan kalau menekuni sunnah nabi berarti mengubah hukum dari sunnah menjadi wajib. Demikian pula, jika mereka diingatkan supaya tidak melakukan perbuatan yang dibenci oleh syari’at, mereka berdalih, “Ini hanya makruh saja.”
Kepada mereka perlu ditanyakan, andaikan ada dua pilihan perbuatan, yang satu hukumnya sunnah dan yang lain adalah makruh, maka apakah masih juga memilih yang makruh daripada yang sunnah? Apakah ada shahabat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam yang menanyakan sesuatu, kemudian setelah tahu bahwa itu sunnah mereka meninggalkannya? Dan ketika tahu, bahwa itu adalah makruh, kemudian mereka justru mengerjakan?”
Kedudukan As Sunnah di dalam Al Qur’an

Perlu diketahui bahwa patuh dan ta`at kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam adalah patuh dan tekun menjalankan Sunnahnya, mengamalkan. Dan patuh kepada Sunnah berarti patuh dan taat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala . Berikut ini dalil-dalilnya:

Perintah ta`at kepada Allah dan kepada rasul-Nya, disebutkan secara bergandengan di dalam al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintahnya)” (QS. 8:20)
Dan di dalam ayat yang lain desebutkan, artinya:
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” (Qs.8:24)

Allah menegaskan, bahwa petunjuk (hidayah) itu sangat tergantung kepada ketaatan dan ittiba’ kepada Nabi Nya.
“Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk” (QS. 7:158)
Dan firman Nya,

“Katakanlah, “Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk” (An Nur: 54)

Allah telah menetapkan rahmat Nya bagi para pengikut Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, dan menjanjikan keberuntungan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat atasnya.

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (QS. 7:156)
Dalam kelanjutan ayat di atas disebutkan,

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi …. Hingga pada firman Allah, “Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an). Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. 7:157)

Sahnya iman seseorang sangat tergantung kepada kepatuhan terhadap keputusan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, menerima dan lapang dada atas keputusan itu.

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa kebera-an dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. 4:65)
Di dalam ayat yang lain Allah menegaskan,

“Kemudian jika kamu berlainan penda-pat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemu-dian.” (QS. 4: 59)
Demikian pula firman Allah di dalam surat al Ahzab ayat 36, dan selainnya.

Allah telah memperingatkan bahwa menyelisihi Rasul Shalallaahu alaihi wasalam merupakan sebab kehancuran dan terjerumus dalam fitnah. Sebagaimana yang telah difirmankan,
Artinya, “Maka hendaklah orang- orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. 24:63)

Orang yang tidak mengikuti jalan rasulullah, niscaya menyesal pada Hari Kiamat kelak, sebagaimana Allah berfirman,
Artinya, “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; Kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku).” (QS. 25:27-28)

Allah telah menetapkan bahwa cinta Allah dan ampunan-Nya hanya bisa diraih dengan mengikuti Rasul -Nya:
Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 3:31)
Demikian penjelasan dari al-Qur’an yang mengajak kita semua kaum muslimin untuk berpegang kepada sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam . Karena segala ucapan beliau yang berkaitan dengan agama bukanlah berasal dari kemauan hawa nafsunya, tetapi atas bimbingan wahyu Allah.
Penjelasan dari As Sunnah (Hadits)

Amat banyak hadits Nabi yang memerintahkan setiap muslim untuk mengikuti sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, dan melarang berbuat bid’ah (menyelisihi sunnah). Di antara sabda Nabi yang menegaskan hal itu adalah:

Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam,

Artinya, “Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Lalu ditanyakan, Siapakah yang enggan wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Barang siapa yang taat kepadaku, maka masuk surga, dan barang siapa yang bermaksiat kepada-ku maka dia telah enggan (masuk surga)” (HR. Al Bukhari)

Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam,

Artinya, “Biarkan aku dengan apa yang telah kutinggalkan untuk kalian (terimalah ia), sesungguhnya yang telah membinasakan orang sebelum kalian adalah (disebabkan) mereka banyak bertanya dan banyak menyelisihi nabi mereka. Jika aku melarang kalian dari mengerjakan sesuatu maka jauhilah, dan jika aku memerintahkan sesuatu maka laksanakanlah sesuai kemampuan kalian.” (Muttafaq Alaih)

Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam (dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah), di antara potongannya,
“Hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ ar Rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham (perpegang eratlah terhadapnya), dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Dawud dan at Tirmidzi dan berkata at Tirmidzi, “Hasan Shahih”)
Sikap Shahabat Nabi terhadap As Sunnah

Berkata Abu Bakar as Shiddiqz, “Tiada sesuatu pun yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, kecuali aku melakukannya dan tidak pernah aku meninggalkannya. Aku khawatir jika aku meninggalkan sedikit saja yang beliau perintahkan, maka aku akan menyimpang.”

Berkata Umar bin Khaththab Radhiallaahu anhu ketika memegang hajar aswad, “Sung-guh aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak memberi madharat dan manfaat, kalau bukan karena aku melihat Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu.”
Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu berkata, “Aku tidak pernah meninggalkan sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam karena ucapan seseorang”

Abdullah Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sederhana dalam melaksanakan sunnah, lebih baik daripada banyak dan giat di dalam melakukan bid’ah.”
Ibnu Umarzapabila sedang meniru Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , maka orang yang melihatnya mengira ada sesuatu yang tidak beres padanya (seperti tidak wajar). Bahkan Nafi’, maula (klien) beliau mengatakan, “Kalau aku melihat Ibnu Umar sedang mengikuti sunnah Nabi SAW sungguh aku mengatakan, ini adalah sesuatu yang gila.”
Ibnu Abbas juga pernah berkata, “Wahai manusia, aku khawatir kalau turun hujan batu dari langit, (lantaran) aku katakan pada kalian sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, lalu kalian menyanggah dengan mengatakan “Abu Bakar berkata begini dan Umar berkata begitu!.”

Wallahu a’lam

TAUBAT DAN HARGA DIRI



Kita semua tahu bahwa jalan terakhir dari sebuah perbuatan salah adalah menebus kesalahan tersebut dengan sebuah kebaikan yang tidak perna putus. Atau, dengan kata yang lebih terkenal adalah melakukan taubatan nasuha. Tidak jarang kita mendengar orang yang dulunya seorang bajingan kini menjadi alim ulama, atau ada juga orang yang dulunya alim dan besar dipesantren tapi malah terjerumus dalam dunia hitam.
karena dalam suatu dosa ada dua hak: hak Allah SWT dan hak manusia. Maka taubat dari dosa itu adalah dengan meminta maaf kepada manusia karena hak orang itu atasnya; dan dengan menyesali perbuatan itu untuk menghapus dosa di hadapan Allah SWT, karena hak Allah SWT atasnya.
Syukur-syukur bisa melakukan taubat kecuali amal kebaikan dengan tanggungan dosa keburukan. (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari) sebelum ajal memanggil bagaimana jika tidak ???

"Barangsiapa yang telah melakukan kezaliman kepada saudaranya, baik harta maupun harga diri, maka pada hari ini hendaklah ia meminta dibebaskan, sebelum datang hari tidak berguna padanya dinar dan dirham, kecuali amal kebaikan dengan tanggungan dosa keburukan. (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari)

Sering kita bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi atau menimpa mereka yang seyogya nya anak “baik-baik”. Kasihan, mungkin itulah kata yang terlontar dari mulut kita. Tapi pernahkah kita bertanya mengapa atau pernahkah kita mencari tahu sebab musababnya. Pada dasarnya, nafsu dan harga diri berhubungan erat. Terlebih lagi jika iman sudah mulai menipis dan hanya tinggal sisa-sisa. Harga diri, adalah sebuah hal yang sangat urgent bagi setiap makhluk yang bernama manusia. Dan hal ini, dimanfaatkan dengan baik oleh syaitan sehingga bisa dicemari oleh nafsu. Hasilnya? Tentu saja sebuah kesombongan luar biasa dan sebuah kekhwatiran yang tidak beralang.

Banyaknya manusia yang terjebak dalam jaman disebabkan karena mereka merasa bahwa ada harga yang harus dikorbankan. Dan bila harga itu dikorbankan maka ia merasa bahwa dunianya telah hilang. Asstaghbirullah.. Inilah biang kerok mengapa begitu banyak manusia susah untuk bertobat. Pada dasarnya taubat itu sangat mudah, semudah kita melafalkan syahadat. Tapi, bila telah di antukkan dengan kenyataan maka hal tersebutlah sebuah kenyataan pahit.

Banyak yang takut bertobat karena takut kehilangan teman mainnya, dunia malamnya, prestige nya hilang karena ia berjenggot. Bagi mereka, itulah sebuah harga diri yang tidak pantas dibuang. Ukurannya pun adalah dunia pergaulan. Berapa banyak yang bangga dengan apa yang pakainya, dengan siapa ia berteman, dimana ia kuliah, dan kemana jika  bergaul, Itulah yang terkadang menjadi ukuran harga diri.

Maka hendaklah kita bertaubat, sebelum godaan/cobaan tersebut datang kepada diri kita. Allah S.W.T akan selalu membuka pintu taubat nya untuk semua orang termasuk diri kita sendiri.

“Dan terhadap orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (at taubah 118)

Jika demikian manakah yang terpenting diantara keduanya. Tak bisakah kita terus dan terus mengalahkan sesuatu yang memang seharusnya dikalahkan. Harga diri tentu saja penting, tapi harga diri yang bagaimanakah yang ingin dibentuk? Salah kaprah mengenai pengertian harga diri dan salah kaprah dalam penempatan inilah yang selalu menjadi masalah. Negeri ini, mungkin saja sudah salah kaprah mengenai harga dirinya. Negeri ini, berpikir bahwa dengan mengirim aurat mungkin bisa mengangkat harkat derajat tapi apa yang didapat. jika ditanya manakah yang terpenting, silahkan anda jawab sendiri. Karena orang yang bertaubat adalah orang yang berani mengambil keputusan. Jangan pernah berpikir untuk bertaubat jika jiwa anda adalah jiwa seorang pengecut. Ibarat pemimpi yang hanya berani untuk bermimpi tidak pernah berpikir untuk menjadikannya nyata, sekarang tinggal kita masing - masing gimana menanggapinya.

Kerendahhatian dan Kesombongan





Rendah hati adalah salah satu dari konsep-konsep inti yang sering diingatkan kepada kita secara berulang-ulang. Rendah hati adalah tanda iman sedangkan kesombongan adalah tanda kafir
Jika kerendahhatian dianggap identik dengan iman dan kesombongan dianggap identik dengan kafir, itu karena iman membimbing manusia kepada pemahaman dan kebijaksanaan, sementara kafir menghalangi seseorang dari memperoleh kebaikan. Dengan membangun kesadaran akan Allah melalui kearifan, seseorang yang memiliki iman dalam hatinya tidak akan pernah berani menyombongkan diri. Dia menerima dengan rela bahwasanya Allah berkuasa atas segala sesuatu, sedangkan dia sebagai manusia hanyalah seorang hamba yang diberkahi dengan banyak kenikmatan. Orang yang mendapat hidayah melihat kekuasaan Allah dalam segala hal dan menyadari kelemahan dirinya sebagai manusia yang merasa lapar, mudah mendapat sakit dan menderita rasa sakit. Dia tidak dapat mencegah dirinya dari bertambah tua. Dia tidak menciptakan dirinya sendiri dan juga tidak dapat menghindari mati. Dengan tubuh yang cenderung kepada kelemahan, dia ditakdirkan hidup untuk periode waktu tertentu hingga pada akhirnya dia mati dan kembali kepada Penciptanya. Tidak ada satu alasanpun yang pantas baginya untuk menyombongkan diri. Bahkan seandainyapun dia memiliki hal yang pantas untuk disombongkan, dia tetap tidak layak untuk menyombongkannya karena semuanya, baik itu dirinya maupun yang dia miliki, adalah pemberian Allah. Karena itu sudah selayaknya dia berterima kasih ketimbang menyombong. Pengakuan akan keagungan sang pencipta, dengan sendirinya akan memimpin orang itu. Dia benar-benar sadar akan kelemahannya di mata Allah, namun dia tidak menunjukkannya kepada orang lain. Sebaliknya, dia dikenal sebagai orang yang bermartabat, terhormat, rendah hati, percaya diri, dan dewasa.
Akibat kurang mampu untuk memahami Allah, orang kafir tinggal di dalam cengkeraman kesombongan dan kebanggaan mereka yang percuma. Mereka merasa memiliki identitas terpisah yang bebas dari Allah. Kelebihan pribadi seperti kecerdasan, kesejahteraan, penampilan menawan, kemasyhuran, menjadi hal-hal yang membuat mereka memuji diri mereka sendiri. Mereka tidak mengerti bahwa semua itu adalah berkah yang diberikan oleh Allah dan dapat dicabut sewaktu-waktu. Aspek lain dari orang kafir adalah rasa rendah diri yang berlebihan. Hal ini secara umum adalah akibat dari ketidakmampuan untuk mencapai status atau standar hidup tertentu. Akibat ketidaksadaran total akan konsep-konsep kunci semacam itu serta konsep kepatuhan dan keyakinan kepada Allah, orang kafir dapat mengalami penderitaan dari berbagai macam penyakit jiwa yang berbeda, dan yang terbanyak adalah rendah diri yang berlebihan atau terlalu tinggi hati. Keadaan mereka didefinisikan di dalam Al-Qur'an sebagai berikut:
Sesungguhnya orang-orang yang membantah dalil-dalil Kami tanpa alasan, yang mereka peroleh itu tidak lain karena kesombongan nafsu ingin mendapat atau mempertahankan kedudukan sebagai orang besar, padahal maksudnya itu tidak akan tercapai. Oleh karena itu mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Al-Mukmin:56
Seseorang yang berada dalam keadaan ini menemukan bahwa segala sesuatunya tidak berarti kecuali keberadaannya sendiri. Di matanya segalanya adalah alat untuk memuaskan egonya. Dia terus-menerus berada dalam usahanya memuji dirinya sendiri. Dia menyangkal kegagalan-kegagalannya dan tidak pernah mengakui bahwa dia berasal dari jenis manusia yang sangat mungkin berbuat salah. Pada beberapa hal, dia mengembangkan kebencian yang hebat terhadap agama. Hal ini pada dasarnya karena agama mengajarkan kebenaran yang unik bahwa seorang manusia hanyalah hamba Allah yang mana keberadaannya secara total bergantung pada Allah. Namun karena termakan habis-habisan oleh harga dirinya, dia menjadi buta pada kebenaran yang ditunjukkan oleh agama. Di dalam penyangkalan itu, dia berpegang teguh pada pendiriannya sendiri tentang hidup. Al-Qur'an menjelaskan tentang orang-orang semacam ini sebagai berikut:
Mereka mengingkarinya karena zalim dan sombong, padahal hati mereka meyakini kebenarannya. Sebab itu perhatikanlah bagaimana kesudahannya orang-orang yang berbuat onar. An-Naml:14
Karena terbelenggu oleh kesombongannya, orang semacam itu hidup demi memuaskan ego mereka sendiri. Tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah orang-orang yang cenderung kepada berbuat kejahatan. Ayat di bawah ini memperingatkan kita tentang tindakan mereka yang memperdayakan:
Di antara manusia Golongan manusia ini ialah orang-orang yang perkataanya berbeda dengan perbuatannya atau berbeda dengan apa yang tersembunyi di dalam hatinya. Keahliannya dalam memutar-balikkan sesuatu dan memutar lidahnya dalam pembicaraannya hingga dapat menarik perhatian pendengar adalah senjata ampuhnya . Dia dapat mempertahankan pendiriannya yang salah, dengan kepintaran memutar lidah semata. Golongan manusia yang seperti ini, ada pada tiap-tiap bangsa dan masa ada golongan yang ucapannya menarik perhatianmu mengenai kehidupan dunia ini, dan dipersaksikannya dengan nama Allah atas kebenaran isi hatinya, padahal dia adalah musuh utama. Dan apabila dia telah pergi meninggalkan pendengarnya, maka ia membuat kerusakan di muka bumi, dirusakkannya sawah ladang dan ternak Dalam hubungan itu sebagian cendekiawan muslim berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sawah dan ladang ialah perempuan. Yang dimaksud dengan ternak ialah turunan. Ini berdasarkan ayat Tuhan. (Lihat 2:223). Maka dengan ini yang dimaksud merusak sawah ladang ialah merusak kehormatan perempuan dengan menggaulinya dengan cara tidak sah, untuk kemudian melahirkan anak (turunan) yang tidak sah pula. Dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Dan bila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah!", serta merta timbul keangkuhannya yang menjurus kepada dosa. Cukuplah neraka jahanam sebagai balasannya; dan itulah tempat tinggal yang seburuk-buruknya. Al-Baqarah:204-206
Dalam ayat lain, sikap dari orang-orang yang sombong dinyatakan sebagai berikut:
Didengarnya beberapa dalil Allah yang dikemukakan kepadanya, kemudian dia tetap menyangkal dengan sombongnya, seolah-olah dia tidak mendengarkannya. Karena itu, gembirakanlah dia dengan siksaan yang pedih. Al-Jatsiyah:8
Menyangkal kebenaran hanya karena kesombongan belaka, adalah kunci pemahaman tentang arti kesombongan. Dengan berbuat sombong berarti seseorang telah memilih jalan kesedihan baik itu di dunia maupun di akhirat nanti. Itulah sebabnya kesombongan menjadi musuh manusia yang paling membahayakan.
Bahkan kesombongan pulalah yang menjadi alasan penolakan Iblis untuk memberikan penghormatan kepada Nabi Adam. Hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur-an dalam sebuah cerita:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Manakala telah kusempurnakan kejadiannya dan setelah kutiupkan roh ciptaanKu; hendaklah kamu merendahkan diri sujud kepadanya." Lalu para malaikat itu sujud semuanya; kecuali iblis. Dia berlagak sombong, dan dia termasuk orang-orang yang kafir. Tuhan bertanya: "Hai iblis, apakah gerangan yang menghalangimu untuk sujud kepada seseorang yang telah Kuciptakan dengan kekuasaanKu? Apakah kamu berlagak sombong atau merasa diri tergolong orang yang lebih tinggi?" Iblis menjawah: "Aku lebih baik dari padanya. Engkau menciptakanku dari api, sementara dia Engkau ciptakan dari tanah. Tuhan berfirman: "Keluarlah kamu dari Syurga, sesungguhnya engkau sudah terusir." Dan kutukanKu tetap atasmu sampai "Hari Pembalasan." Sad: 71-78
Pernyataan yang digunakan iblis di dalam ayat tersebut sangatlah mengejutkan dan mencerminkan watak kejinya. Iblis dikuasai oleh perasaan tak berdasar yang membuatnya merasa lebih penting dari Adam. Iblis enggan mengakui bahwa Allah-lah yang sanggup memuliakan makhluk. Padahal dengan diperintahkannya malaikat untuk bersujud pada Adam, jelas bahwa Iblis pun kalah mulia dari Adam karena sebelum adanya Adam, malaikat adalah makhluk yang paling mulia diantara semua makhluk. Tidak satu makhlukpun yang berani melawan perintah Allah namun Iblis berani dan sebagai akibatnya dia dikutuk selama-lamanya.
Iblis memberikan sebuah contoh jahat bagi orang-orang yang mengikuti jalannya. Iblis memberontak kepada Allah dan mendorong manusia untuk memberontak juga. Ayat di bawah ini menjelaskan tentang bagaimana manusia disesatkan:
Tuhan berfirman: "Hai iblis mengapa kamu tidak sujud menyertai mereka?". Iblis menjawah: "Aku tidak layak bersujud kepada makhluk yang Engkau ciptakan dari jenis "tanah liat yang dibentuk itu". Allah berfirman: "Keluarlah dari sini, karena kamu terkutuk, sedang kutukan itu selalu akan menimpamu sampai hari kiamat". Berkata iblis: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari kebangkitan manusia". Tuhan menjawah: "Kamu diberi tangguh, sampai pada suatu hari, yang waktunya sudah dikenal Maksudnya "Hari tiupan sangkakala yang pertama yaitu pada saat berakhirnya hari-hari dunia", dan permulaannya "hari-hari akhirat", di mana semua makhluk yang ada di langit dan yang ada di bumi dimatikan. Itulah permulaan kiamat, ditandai dengan tiupan sangkakala yang pertama. Iblis berkata lagi: "Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku ini makhluk sesat, maka aku akan merangsang anak cucu Adam di muka bumi ini untuk berbuat maksiat, dan akan kubawa sesat mereka semuanya. Al-Hijr:32-39
Iblis menginginkan manusia untuk tersesat juga. Ini adalah tipe kepuasan jiwa yang juga ada pada manusia. Sama seperti halnya Iblis, seseorang yang melakukan kejahatan juga menginginkan orang lain melakukan kejahatan dan dihukum juga. Harapan untuk berbagi kejahatan; dan dengan demikian juga berbagi hukuman, telah menjadi hiburan bagi orang-orang yang menolak beriman dan mengingkari keberadaan Allah karena mereka tahu bahwa mereka juga dikelilingi oleh orang-orang yang juga tersesat. Rasa sentimen seperti "Semua orang juga melakukannya" dan "Jika orang-orang masuk neraka saya juga", biasanya diungkapkan. Alasan dari pernyataan ini adalah logika seperti yang dijelaskan di atas. Iblis sadar betul akan keberadaan dan kekuasaan Allah namun karena dikendalikan oleh rasa tinggi hati yang berlebihan, dia mengharapkan "perlakuan istimewa" dan ingin menikmati hak-hak istimewa pula. Itulah sebabnya dia menolak ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Adam. Di dalam Al-Qur'an digambarkan bagaimana orang-orang kafir sebenarnya mengakui keberadaan Allah, namun karena "percaya bahwa mereka memiliki beberapa keunggulan istimewa", mereka ingin menikmati hal-hal tertentu di atas orang lain. Apalagi banyak orang tersesat yang menganggap diri mereka "kekasih Allah". Di dalam Al-Qur'an sikap mental semacam ini sering ditegaskan:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihnya-Nya". Katakanlah! kalau begitu mengapa Tuhan menyiksamu karena dosa-dosamu?". Tidak benar kamu adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih Tuhan, tetapi kamu adalah manusia biasa di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya pula. Dan kepunyaan Allah-lah kekuasaan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya. Dan kepada-Nya-lah tempat kembali segala-galanya. Al-Maidah:18
Perasaan istimewa dan superior terwujud dalam berbagai bentuk. Islam mengajarkan kepada manusia bahwa manusia berhutang kehidupannya kepada Allah dan manusia tidak memiliki hal apapun kecuali apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Menolak fakta ini adalah penyebab utama yang membuat sebagian besar manusia tersesat. Apakah bedanya pernyataan Iblis yang menyatakan "Aku diciptakan dari api" dengan peryataan "Aku anggota keluarga terpandang", "Aku memiliki banyak uang", atau "Aku berpenampilan menawan". Hal-hal tersebut menjadi alasan atas kesombongan mereka. Peristiwa Qarun adalah contoh nyata seperti yang diceritakan dalam surat Al-Qasas:76-83.
Seperti yang kita lihat pada ayat di atas, Qarun dan orang-orang sejenisnya percaya bahwa mereka diberi anugrah karena sifat-sifat tertentu yang mereka miliki sehingga pantas ditolong oleh Allah dan menganggap orang miskin sebagai orang yang tidak pantas mendapat pertolongan dari Allah. Mereka lupa dan menyangkal bahwa semua sifat-sifat tersebut pada dasarnya adalah anugrah Allah. Pernyataan Qarun: "Harta ini diberikan kepadaku karena ilmu tertentu yang aku miliki", adalah suatu kesombongan. Inilah sebabnya orang merasa penting dan suka memaksa kepada orang lain ketika merasa dirinya berhasil, makmur, dan berkuasa. Orang-orang yang demikian adalah orang-orang yang menganggap diri mereka kekasih tercinta Allah.
Manusia itu tidak pernah jemu memohon kebaikan, tetapi jika dia ditimpa malapetaka, dia putus-asa dan hilang harapan. Bila mereka Kami beri karunia setelah mereka menderita kesengsaraan, mereka katakan: "Inilah hakku, dan aku tidak yakin bahwa kiamat itu akan terjadi. Namun bila aku dikembalikan kepada Tuhanku, tentu sejumlah kehormatan telah ada untukku pada sisi-Nya". Sesungguhnya Kami akan memberitahukan kepada orang-orang kafir itu perbuatan maksiat yang pernah mereka kerjakan, lalu kami rasakan siksaan yang keras kepadanya. Fusshilat: 49-50
Sebaliknya orang-orang beriman tidak yakin bahwa dirinya pantas masuk surga. Itulah sebabnya orang beriman menyembah Tuhan mereka dalam "rasa takut dan harap" (As-Sajadah:16). Mereka mengharap Allah dan berdoa "Lindungilah kami dari api neraka (Al-Baqarah:201) "Jangan biarkan kami tersesat setelah kami Engkau beri petunjuk" (Al-Imran:8) "Hadirkanlah jiwa kami di hadapanmu sebagai orang muslim yang tunduk pada keinginanmu" (Al-A'raf:126). Semuanya itu jauh dari sifat orang kafir yang merasa pasti bahwa dirinya akan masuk surga. Kesombongan adalah penghalang bagi keselamatan abadi seseorang karena Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi menyombongkan diri (Al-Hadid:22). Ayat-ayat di bawah ini memperingatkan manusia secara berulang-kali untuk menghindari kesombongan:
Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan congkak. Sebab engkau tidak akan mampu menembus bumi, dan tidak pula akan dapat menjulang setinggi gunung. Al-Isra:37
Dan janganlah engkau membuang muka penuh kesombongan terhadap orang lain dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sebab Allah tidak senang terhadap semua orang yang sombong lagi angkuh. Luqman:18
Tiada suatu bencanapun yang menimpa masyarakatmu di bumi Seperti musim paceklik, bencana alam, penjajahan, dan lain-lain atau yang langsung menimpa dirimu sendiri, hanya sudah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum bencana itu Kami ciptakan. Hal itu bagi Allah mudah saja. Demikianlah agar kamu jangan terlalu berduka cita terhadap sesuatu yang sudah luput darimu, dan jangan terlalu gembira terhadap sukses yang telah kamu capai. Allah tidak menyukai kepada semua orang yang sangat sombong dan bersikap angkuh. Al-Hadid:22-23
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan apapun juga. Dan berbaktilah kepada kedua orang ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh Sekalipun tetangga jauh itu bukan muslim, teman sejawat Yang dimaksud adalah teman dalam perjalanan, orang-orang yang dalam perjalanan, dan hamba sahaya yang berada di bawah kekuasaanmu. Sesungguhnya Allah tidak menyenangi orang-orang yang sombong dalam gerak-geriknya lagi sombong dalam ucapannya. An-Nisa:36
Di dalam Al-Qur'an, orang beriman berulang kali diingatkan untuk rendah hati dan bersikap lunak. Orang beriman secara teliti menghindari kesombongan karena mereka dapat memahami ayat bahwasanya Allah membenci orang-orang yang sombong lagi menyombongkan diri. Karena itu Al-Qur'an mendeklarasikan bahwa kerendahah-hatian adalah kebaikan dasar orang beriman.
Bagi masing-masing umat yang beragama, telah kami syari'atkan ibadah kurban Maksudnya menyembelih binatang ternak atas dasar pengarahan: mendekatkan diri kepada Allah semata. Islam menyatukan arah semua aktifitas muslim, baik dalam tutur-kata maupun amal perbuatan ke satu arah, yaitu: Allah. Tidak terkecuali dengan ibadah kurban ini. Itulah warna kehidupan muslim dan itu pulalah akidah muslim. Maka berdasarkan kesatuan arah ini pulalah diharamkan memakan daging binatang sembelihan yang tujuan menyembelihnya menyimpang dari akidah tauhid, dengan menyebut nama selain Allah. Misalnya nama berhala anu, batu keramat ini, tempat keramat itu, dan sebagainya, dan sebagainya, supaya mereka menyebut nama Allah pada waktu menyembelihnya dan bersyukur kepadaNya atas pemberian binatang ternak itu kepadanya. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kepadanya! Dan berilah berita gembira orang-orang yang tunduk patuh kepada Tuhan. Al-Hajj:34
Hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih ialah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang yang bodoh mengucapkan kata yang tidak sopan kepadanya, dijawabnya dengan: "Selamat Sejahtera!" Al-Furqan:63
Itu kampung akhirat yang pernah kau dengar beritanya Kami jadikan kenikmatannya bagi orang-orang yang tak pernah berlagak sombong dan merusak di permukaan bumi. Dan syurga, adalah akibat yang baik bagi orang yang takwa. Al-Qasas: 83 Adapun yang beriman dengan ayat-ayat Kami, tidak lain hanya orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat itu, mereka menyungkur sujud sambil mengucapkan puja dan puji kepada Tuhannya, lagi mereka tidak pernah bersikap sombong. As-Sajadah:15
Ini adalah hal yang agak penting untuk dipertimbangkan. Apakah seseorang itu beriman ataukah tersesat, bergantung pada sombong atau rendah hatikah dia. Akibat-akibat dari kesombongan dijelaskan dalam ayat-ayat di bawah ini:
Akan Aku belokkan orang-orang yang bersikap sombong di muka bumi tanpa alasan yang benar dari memahami tanda-tanda kekuasaanKu Petunjuk dan keberuntungan yang dibawa oleh Syari'at Tuhan. Ciri-ciri orang yang sombong itu ialah: Jika mereka melihat ayat-ayat-Ku mereka tidak mempercayainya, jika mereka melihat petunjuk jalan mereka tidak mau melaluinya, dan bilamana mereka melihat jalan kesesatan mereka langsung menempuhnya. Yang demikian itu disebabkan mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami dan selalu lalai dari padanya. Al-A'raf: 146
Orang-orang yang memerangi para pendakwah juga sombong seperti halnya orang-orang yang memerangi para rasul. Orang seperti itu didefinisikan sebagai "para pemimpin orang kafir" atau "orang-orang yang bersikap sombong" yang di dalam Al-Qur'an disebut sebagai menolak mematuhi rasul karena kesombongan dan arogansi. Mereka menolak bimbingan orang lain kepada jalan kebenaran. Atas dasar sikap suka menentang, mereka menganggap tak ada halangan. Kesombongan para pemimpin orang kafir ini sering disebut di dalam Al-Qur'an:
Pemuka-pemuka kaumnya yang sombong, mengatakan kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman diantara mereka, katanya: "Tahukah kalian bahwa Shalih diutus menjadi Rasul oleh Tuhannya?" Mereka menjawah: "Sesungguhnya kami ini beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada Shalih di mana ia disuruh menyampaikannya". Orang-orang yang sombong itu berkata lagi: "Sesungguhnya kami tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu". Orang yang terkemuka dari kaum Syu'aib itu berkata: "Hai Syu'aib kami akan mengusir kamu dan pengikut-pengikutmu yang beriman itu dari negeri kami ini, atau kamu bersedia menganut kembali agama kami. Syu'aib menjawab: "Apakah akan kamu paksa juga, sekalipun kami tidak sudi?" Al-A'raf: 75-76; 88
Orang sombong menetapkan standar tertinggi atas status sosial, kemakmuran, dan kemasyhuran. Utusan manapun yang tidak dapat memenuhi standar tersebut, akan mereka anggap sebagai orang yang tidak mampu untuk memimpin manusia kepada jalan kebenaran. Sikap bawaan yang paling lazim dari orang kafir adalah kecenderungan mereka untuk memberontak melawan para utusan terpilih Allah.
Dalam Al-Qur'an, pemberontakan Bani Israil melawan Thalut, seorang pemimpin yang diutus kepada mereka, diceritakan sebagai berikut:
Nabi mereka berkata lagi kepada mereka. "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Mana mungkin Thalut akan dapat merajai kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, lagi pula ia tidak mempunyai kekayaan yang cukup banyak". Nabi mereka menjawab: "Sungguh, Allah yang telah memilihnya menjadi rajamu, dan akan menganugrahinya dengan ilmu yang luas dan keperkasaan" Mereka berpendapat bahwa yang patut menjadi raja ialah mereka dari turunan raja-raja dan bangsawan serta kaya-raya. Padahal syarat yang diperlukan untuk seorang raja ialah: memiliki kepribadian yang menonjol, mempunyai ilmu pengetahuan yang luas di segala bidang. Dan Allah menganugrahi kerajaan kepada orang yang disukai-Nya, dan Allah itu Maha Luas Pemberian-Nya dan Maha Mengetahui. Al-Baqarah: 247
Juga selama periode Nabi Muhammad, orang terkemuka pada masa itu dengan berapi-api menentang beliau (Az-Zukhruf: 37). Sikap perlawanan mereka, tidak salah lagi, dihasilkan dari kebiasaan mereka menilai orang berdasarkan kesejahteraan, harta, dan nama baik. Mereka baru akan patuh apabila utusan yang dikirim adalah orang terkemuka dan kaya. Namun mematuhi seseorang hanya karena dia dipilih oleh Allah saja, bagi mereka sangat sulit karena mereka sombong. Hal yang sama terjadi pada Nabi Shaleh:
Kata mereka: "Apakah kita akan mengikuti seorang manusia biasa dari kalangan kita sendiri. Jika demikian kita ini benar-benar dalam kesesatan, gila macam kuda liar?" Apakah terhadap orang biasa di antara kita itukah wahyu itu diturunkan? Padalah dia seorang pendusta lagi sombong. Kelak mereka akan tahu siapa sebenarnya yang bohong dan sombong itu. Al-Qamar: 24-26
Dalam memahami betapa sombongnya orang yang tersesat, Surat Al-Mudatsir menerangkan kepada kita secara jelas. Surat itu menerangkan tentang seseorang yang diberi banyak anugrah oleh Allah, yang mendengar dan memahami ayat Allah tapi juga tidak mematuhi perintah Allah hanya karena kesombongan belaka. Untuk itu dia pantas dihukum dengan cara dibuang ke neraka:
Biarlah Aku sendiri yang bertindak atas orang yang telah Kuciptakan "sebatangkara" Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan sehubungan dengan tingkah polah seorang pimpinan kafir Quraisy, yang bernama Walid bin Mughirah. Dia dilahirkan sebatangkara lagi papa. Lalu ia menjadi kaya-raya, serta dapat pula kekuasaan dengan menduduki kursi pimpinan dalam masyarakat kafir Quraisy. Dan telah Kuberikan kepadanya harta benda yang melimpah ruah; dan anak-anak yang selalu mendampinginya. Dan aku lapangkan baginya rezeki dan kekuasaan selapang-lapangnya. Lalu ia ingin sekali supaya harta benda dan kekuasaan itu Aku tambah lagi. Sekali-kali tidak akan Kutambah! Karena dia sangat menentang ayat-ayat kami. Akan Kutimpakan kepadanya siksaan yang tidak tertanggungkan. Dia telah memikirkan rencana penolakan Al-Qur'an semasak-masaknya, dan menetapkan tindak pelaksanaannya. Maka terkutuklah dia! Bagaimanapun "cara" yang diperbuatnya. Sekali lagi terkutuklah dia! Bagaimanapun "lampah" yang dilakukannya. Lalu ia berpikir tentang Al-Qur'an berkali-kali. Lalu di bermuka asam dan memberengut. Sesudah itu dia berpaling terus pergi dengan rasa penuh keangkuhan. Lalu dia berkata: "Al-Qur'an ini adalah sihir orang lain yang diambil alih oleh Muhammad". Dan tidak lain, hanyalah perkataan manusia belaka. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar. Sampai dimana pengetahuanmu tentang neraka Saqar itu? Neraka Saqar itu, tidak menyisakan daging, dan tidak pula membiarkan tinggal tulang-tulang. Pembakar kulit manusia. Al-Mudatsir: 11-29
Pada ayat lain keadaan orang sombong di neraka digambarkan sebagai berikut:
Diperintahkan kepada penjaga neraka: "Tangkaplah orang yang berdosa itu dan seretlah ke tengah-tengah neraka!". "Kemudian tuangkanlah ke atas ubun-ubunnya air mendidih tadi sebagai siksaan. "Rasakanlah! Karena engkau pernah mengatakan bahwa engkau orang yang perkasa dan mulia Ucapan ini dilontarkan sebagai ejekan dari Nabi Muhammad terhadap lawannya Abu Jahal, ketika dibunuh pada masa Perang Badar. Demikian Al Umawi dalam beberapa kisah pertempurannya yang diutarakan oleh 'Ikrimah. Siksaan ini adalah siksaan yang waktu di dunia dahulu engkau sangsikan. Ad-Dukhan: 47-50
Manusia hanyalah hamba Allah. Sadarilah keadaan diri sebelum Allah menyadarkan. Hendaknya seseorang menyadari bahwa dia tidak memiliki apapun karena semuanya adalah anugrah Allah. Karenanya dia akan menemukan pertolongan sejati dengan berterima kasih kepada Allah. Jika dia mulai menampakkan kesombongan atas anugrah yang diterimanya, dia akan segera kehilangan kenikmatan yang diperoleh dari anugrah itu. Allah membimbing orang yang menyadari bahwa dia hanya seorang hamba. Namun jika manusia bertindak sebaliknya, dia akan mendapat kemurkaan tuhannya sebagaimana yang diceritakan pada ayat di bawah ini:
Al-Masih sendiri sekali-kali tidak merasa rendah menjadi hamba Allah begitu juga malaikat-malaikat yang terdekat dengan Allah Yaitu di antaranya ialah Malaikat Jibril (Ruhul Kudus) yang membawa perintah penciptaan Al-Masih An-Nisa: 172.
Adapun orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Al-A'raf: 36
Adapun orang yang tidak menyombongkan diri lagi bersikap lunak, adalah hamba Allah sejati dan akan dihadiahi dengan surga:
Itu kampung akhirat yang pernah kau dengar beritanya. Kami jadikan kenikmatannya bagi orang-orang yang tidak mau berlagak sombong dan tidak mau merusak di permukaan bumi. Dan syurga, adalah akibat yang baik bagi orang-orang yang takwa. Al-Qasas: 83
Diterjemahkan dari buklet "The Basic Concepts in The Qur'an" karya Harun Yahya. www.harunyahya.com. Terjemahan Al-Qur'an dikutip dari "Terjemah dan Tafsir Al-Qur'an" susunan Bachtiar Surin terbitan Fa. SUMATRA Bandung.